Andra berulang kali memencet bel dan tidak ada yang membukakan pintu. Hari ini dia pulang larut malam karena ada meeting mendadak dengan pengurus hotel. Setelah lulus kuliah, laki-laki itu meneruskan usaha keluarga bersama beberapa paman dan sepupunya.
Jam menunjukkan pukul sebelas. Biasanya selepas Maghrib, Andra sudah berada di rumah. Pulang awal atau pulang cepat baginya sama saja, tidak bisa bertemu dengan Reisa.
Pernah suatu kali Andra mencoba mengintip saat melihat Reisa keluar kamar menuju dapur. Itu saja sudah membuatnya senang.
Andra duduk di teras dan membuka tas untuk mencari kunci cadangan tetapi tidak ada. Rasanya dia ingin berteriak. Mengapa saat ini hidupnya semakin rumit, mencari kunci saja tidak ketemu.
Andra mengambil ponsel, mencari sebuah nama langsung menelepon seseorang.
"Pak Nok, lagi di mana?"
"Balik ke rumah lama. Tadi, Nok nungguin Den Andra pulang. Tapi kemalaman. Jadi langsung jalan aja. Lupa ngabarin Aden."
Andra menarik napas panjang. Rumah kesayangannya, peninggalan almarhum orang tua. Sejak kecil dia lahir dan tumbuh di sana. Rumah yang harus dia tinggalkan.
Di rumah itulah tempat dia menodai orang yang paling dia sayang. Andra lebih baik meninggalkannya daripada kehilangan Reisa dan anaknya.
"Oh, gitu ya. Yaudah gak apa-apa."
"Iya. Gak berani ninggalin kosong. Lagi ada yang kemalingan," jelas Tarno.
"Siapa?"
"Tetangga belakang."
"Loh, kok bisa?" tanya Andra penasaran.
"Gak tau napa bisa kebobolan. Security pada asik nonton bola kali. Jadi kasih masuk orang sembarangan."
"Biar aku cari sendiri aja."
"Emang kenapa, Den?"
"Gak ada yang bukain pintu. Kayaknya udah pada tidur."
"Den Andra gak bawa kunci?"
"Tau nih nyelip di mana. Lupa."
"Cari dulu. Ntar kalau ga ketemu, Nok ke sana nganterin."
"Oke."
Sambungan telepon terputus. Andra membuka kembali tasnya dan kembali mencari. Kasihan Tarno kalau harus datang lagi. Ini sudah malam dan perjalanan jauh.
Andra menumpahkan semua isi tas di atas meja dan mulai mencari. Ketemu, memang terselip ternyata. Dia kembali merapikan semua kemudian membuka pintu.
Ruangan begitu gelap dan sepi. Andra berjalan ke kamar karena sudah ingin merebahkan diri di kasur. Laki-laki itu menarik kenop pintu dan meletakkan tas di meja. Dia membuka kaus kaki juga sepatu kemudian mengganti baju.
Penat yang Andra rasakan seharian ini. Setelah selesai meeting dengan sebagian staf dan karyawan, ada seorang relasinya yang mengajak makan. Lalu, meraka lanjut ngobrol sampai dia harus berpura-pura sakit perut supaya bisa segera pulang.
Andra merasa begitu lelah, lahir dan batin juga fisik maupun mental.
"Reisa, maafin gue. Demi anak kita."
Setelah mandi dan membersihkan diri, Andra berjalan keluar. Lelaki itu berjalan pelan menuju kamar Reisa untuk mencuri dengar dari balik pintu. Hal yang paling sering dia lakukan jika suasana aman.
Andra mulai menguping. Sejak mereka tinggal bersama, inderanya yang satu itu menjadi terlatih dan lebih peka jika mendengar berita apa pun tentang Reisa.
Begitu juga dengan indera penglihatannya, menjadi lebih tajam. Sedikit saja bayangan wanita itu tampak kepalanya refleks menoleh.
Sudah hampir satu minggu ini Andra tidak melihat Reisa sama sekali. Sungguh dia sangat tersiksa.
Andra ingin melihat Reisa secara langsung. Bukan lewat foto-foto yang dikirimkan Inah. Gambar yang diam-diam diambil dengan susah payah supaya tidak ketahuan.
Dengan gontai Andra melangkah ke dapur. Perutnya lapar lagi, padahal tadi sudah makan. Ternyata berpikir juga membutuhkan nutrisi dan asupan gizi yang banyak.
Anda melihat ke meja makan. Kosong tidak ada apa pun. Hanya ada buah dan beberapa cokelat batangan. Itu cemilan kesukaan Reisa semua. Laki-laki itu membuka kulkas untuk melihat-lihat.
"Eh, apa ini?"
Andra mengambil sesuatu. Rasanya tadi pagi tidak ada makanan ini. Apa tadi Tarno keluar membelinya?
Bubur Ayam Haji Sulam. Begitulah yang tertulis di atas boks styrofoam. Porsinya ada dua bungkus.
"Ambil satu buat ganjel perut. Lumayan."
Andra tersenyum senang. Biasanya bubur dimakan untuk sarapan pagi. Namun, tak mengapa jika disantap di malam hati.
Andra meletakkan bubur itu di meja dan membuka bungkusnya. Isinya semua lengkap, tetapi rasanya dingin. Dia mengambil sendok dan mulai mencicipi.
"Enak juga. Tarno beli di mana ini? Pinter juga nyarinya."
Andra makan dengan lahap. Sudah hampir setengah porsi berpindah ke perutnya saat tiba-tiba terdengar suara langkah kaki.
Jantungnya berdetak. Andra menghentikan makan. Pendengarannya semakin tajam, seperti radar yang mencari sinyal.
"Ngapain Inah malam-malam ke dapur?"
Andra menyimak dengan baik. Suara itu, langkah yang turun dari lantai atas. Kalau suasana sunyi sepi begini, kadang-kadang suara sedikit saja bisa terdengar jelas.
Itu bukan Inah. Itu Reisa!
Dengan cepat Andra mematikan lampu dan membiarkan ruangan gelap gulita. Dalam diam dia duduk untuk menunggu Reisa datang.
Ya Tuhan. Aku tak meminta harta benda di dunia ini. Aku hanya ingin bertemu Reisa dan melihat anak kami.
Klik!
Lampu dinyalakan. Reisa masih tidak sadar ada orang di situ selain dirinya. Wanita itu masih setengah mengantuk saat turun ke bawah. Perutnya terasa lapar. Walaupun masih mual, tetap saja dia ingin sesuatu yang bisa dimakan.
Beberapa hari ini Reisa tidak berselera menyantap apa pun. Hanya es krim yang bisa masuk. Tadi sehabis periksa kandungan, Tarno dan Inah mengajaknya makan bubur ayam. Rasanya enak dan dia suka. Bahkan tidak mual sama sekali.
Sesampainya di rumah, Reisa tertidur nyenyak. Namun, di tengah malam dia terbangun dengan perut yang terasa lapar. Biasanya juga tidak pernah begini, dia pasti tertidur sampai pagi.
Reisa membuka kulkas dan memeriksa isinya. Penjual bubur itu hanya buka sore hari sampai malam. Jadi dia membeli dua porsi untuk dibawa pulang.
Rencananya satu porsi akan dimakan untuk sarapan besok pagi, yang satunya lagi untuk Andra. Namun, karena malam ini terbangun, jadi dia memutuskan untuk melahap semua.
"Eh, kenapa cuma satu?"
Seingat Risa tadi masih ada dua porsi. Pikirnya mungkin Inah yang makan atau Tarno sebelum pulang.
Reisa mengucek matanya karena masih mengantuk. Dia mengambil bubur itu, membalik badan menuju meja makan lalu ....
"Rei."
Ketika mendengar itu, bubur terlepas dari tangan Reisa dan terjatuh ke lantai. Dia seperti melihat setan yang bersemayam di dalam tubuh seorang manusia.
Setan itu adalah Andra.
Reisa mengulurkan tangan untuk mengambil bubur yang terjatuh. Kemasannya masih bagus, hanya sobek di bagian boksnya saja. Isinya masih tetap utuh.
Reisa melakukannya dengan cepat. Wanita itu hendak berlari ke kamarnya dan menjauh dari Andra, ketika lengannya dicekal.
"Rei, tunggu!"
Reisa meronta-ronta, berusaha melepaskan cekalan tangan yang semakin kuat.
"Rei, jangan pergi! Gue cuma mau ketemu bentar aja."
"Lepas!"
"Sayang."
Andra merengkuh Reisa dalam pelukan. Sementara wanita itu terus melawan.
"DIEM, REI!"
Reisa terdiam. Kata-kata Andra tadi mengingatkannya pada malam laknat itu.
Air mata Reisa tumpah ruah. Tubuhnya luruh seketika. Wanita itu meraung-raung, memukul tubuh besar yang mengungkungnya.
Reisa takut. Dia takut.