Rendra melangkah gontay melewati pintu utama rumahnya, masuk lebih jauh ke dalam rumah dia menemukan Aura sedang membuat coklat panas di dapur. Sinar lampu berwarna kuning menerpa wajah Aura yang masih terdapat luka mengering juga jejak keunguan. Rendra menyandarkan tubuh pada bingkai pintu sambil melipat tangannya di d**a mengawasi Aura yang tengah malam seperti ini di mana semua manusia normal sedang terlelap dibuai mimpi namun gadis itu malah terjaga untuk membuat minuman hangat. Tanpa Rendra sadari perasaan aneh bernama rindu menggetarkan hatinya. “Buat satu lagi buat Abang,” pintanya membuka suara membuat Aura menoleh kemudian wajah cantik itu mencetuskan senyum berbinar bahagia. “Abang udah pulang?” Pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban adalah tanda bila otak Aura tidak

