Rendra masih mempertimbangkannya dan saat ini hatinya sedang berkecamuk. Di dalam benaknya menggema suara-suara yang membuat kepalanya ingin meledak. Dia sering tanpa sadar mendamba dan menginginkan Aura, selalu ingin melakukan lebih ketika sudah terjebak dalam sentuhan bibir sang gadis. Tapi lagi-lagi satu nama mampu membuat Rendra meredam semua itu. Keheningan membentang di antara Rendra dan Aura selama perjalanan pulang. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing, sesekali Aura melirik suaminya yang tampak tenang mengemudi. “Kenapa?” Suara Rendra membuat Aura yang sudah mengalihkan tatapannya ke depan kembali menoleh pada sang suami. Rendra sadar sedari tadi sang istri mencuri pandang padanya seperti ingin mengutarakan sesuatu. “Ingin makan sesuatu?” Rendra bertanya lag

