“Kamu merasa terancam dengan kehadiran Ayu, bukan?” tanya Sarah. Kata-kata itu langsung menusuk hati Evelyn. Selama ini, dia pikir dia cukup pandai menyembunyikan perasaannya, tapi ternyata tidak di hadapan Sarah. “Mam, aku …” Evelyn mencoba berbicara, tapi suara Sarah memotongnya. “Kamu dan Ayu, dua-duanya sama. Kamu tahu itu, kan? Mami nggak ingin kalau kamu merasa seperti itu.” Evelyn menunduk, jari-jarinya menggenggam gaun yang ia kenakan. “Tapi Mam, semua orang tampaknya begitu menyukainya. Aku ....” Suaranya terputus, seolah tenggelam dalam kebingungannya sendiri. Sarah tersenyum tipis, matanya menatap Evelyn dengan penuh pemahaman. “Evelyn, Ayu memang menarik, dan dia berhasil mendapatkan perhatian semua orang. Tapi itu tidak berarti posisimu tergeser. Kamu adalah bagian pentin

