Bab 21. Tidak Punya Pilihan

1263 Kata

Rayyan menatap Alan yang masih berdiri dengan senyum kecut di wajahnya. Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat Rayyan merasa sedikit bersalah. Sejak kecil, Alan memang tidak pernah benar-benar diterima dalam keluarga mereka. Sarah, selalu menjadi orang pertama yang menunjukkan ketidaksukaannya secara terang-terangan. Rayyan menepuk bahu Alan pelan. "Lan, sudahlah. Kamu jangan terlalu dipikirin," ujarnya dengan nada lembut. "Kamu tahu sendiri 'kan, Mami memang seperti itu sejak dulu." Alan menghela napas, lalu tersenyum tipis. "Aku udah terbiasa, Kak. Cuma ya, kadang tetap aja rasanya nggak enak," katanya jujur. "Seolah aku ini nggak punya hak buat berdiri di rumah ini." Rayyan menatap Alan dengan serius, lalu tiba-tiba berkata, "Makanya, Lan, kamu pertimbangkan baik-baik soal perj

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN