Bab 13. Kepalsuan

1162 Kata
"Kamu pasti lelah 'kan, Mas? Mau kubuatkan teh hangat?" tawar Evelyn sambil menghindari kontak mata dengan Rayyan. Rayyan mengangguk pelan, duduk di sofa sambil melepas sepatu dan melemparkannya ke samping. Evelyn buru-buru ke dapur, berusaha menenangkan diri. Ia melihat Bi Ijah sedang mencuci piring, wajahnya datar namun sorot matanya tampak kelelahan. Evelyn berbisik tegas, "Jangan sampai ada bau aneh atau sisa-sisa apa pun yang bisa Rayyan curigai, Bi. Bi Ijah mengerti, 'kan?" Bi Ijah hanya mengangguk tanpa banyak kata, berusaha menyembunyikan rasa kecewa dan muaknya terhadap istri dari sang majikan. "Iya, Nyonya. Semuanya sudah bersih." Evelyn mengangguk, lalu segera menyiapkan secangkir teh untuk Rayyan. Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, ia kembali ke ruang tamu dan menyuguhkan teh itu untuknya. Rayyan menyambutnya dengan senyum lelah. "Terima kasih, Sayang. Kamu memang istri yang terbaik." Rayyan mengambil gelas yang baru saja Evelyn sodorkan dan menyeruputnya sedikit. "Maaf kalau tadi aku harus meninggalkanmu, Lyn," ucap Rayyan sambil memasang wajah penuh perhatian. "Kamu nggak perlu khawatir, aku mengerti. Apa yang diminta oleh Mami memang nggak bisa dilawan, iya 'kan?" Rayyan tersenyum puas dan kembali menyesap tehnya. "Aku beruntung sekali memiliki istri yang begitu pengertian sepertimu." Sejujurnya, ucapan Rayyan membuat Evelyn merasa semakin bersalah. Namun, ia menepis perasaan itu. Baginya, semua ini adalah harga yang pantas untuk kebebasan yang ia dambakan. Senyum tipis Evelyn seketika hilang ketika tiba-tiba saja, Rayyan menatap Evelyn dengan tatapan yang sedikit menyelidik. "Lyn, kamu pakai parfum baru ya?" Evelyn tercekat. Ia mencoba mengatur napasnya agar tetap stabil. "Oh, ya... tadi aku memang mencoba parfum baru yang kutemukan di laci," jawabnya dengan nada setenang mungkin. Rayyan tersenyum tipis, tetapi matanya tampak mengamati Evelyn dengan lebih cermat. "Wangi yang menarik. Tapi... seperti pernah kucium di tempat lain." Evelyn hanya tertawa kecil, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Ah, mungkin saja kamu pernah mencium wangi yang mirip. Sekarang sudah malam, istirahat saja, Mas?" tawar Evelyn pada akhirnya. "Bi Ijah...," panggil Rayyan. "Eh, kenapa malah panggil Bi Ijah?" tanya Evelyn. "Sebentar, ada yang harus kita bicarakan, Lyn." Saat itu juga detak jantung Evelyn bergemuruh hebat. Dibicarakan? Apa yang harus dibicarakan? batinnya. "I-iya, Tuan." Tak harus menunggu lama, Bi Ijah pun datang. "Bibi lagi apa?" tanya Rayyan. "Bibi... Bibi baru selesai nyuci, Tuan," jawab Bi Ijah tanpa dusta. "Lain kali, kalau nyuci kerjakan pagi hari ya, Bi. Ini sudah malam." Rayyan tersenyum, dia memang merasa kasihan karena memang ini sudah malam. Beda halnya dengan Evelyn yang justru memasang wajah khawatir. Khawatir jika Bi Ijah akan berkata yang tidak-tidak. "I-iya, Tuan." Tentu saja Bi Ijah akan melakukannya, tapi karena seprai itu menjadi bukti perseling***** yang harus segera dilenyapkan, dia tidak bisa membiarkannya sampai esok pagi. "Oh, iya. Ini, Bi. Ada kue kesukaan Evelyn," ucap Rayyan seraya menyodorkan sekotak kue kepada Bi Ijah. Itu sebagai permohonan maaf dari Rayyan karena tadi meninggalkan Evelyn begitu saja. Tak ingin istrinya merajuk, sebelum pulang, dia sempatkan untuk mampir membeli kue yang sangat disukai oleh Evelyn. "Bi Ijah, tolong kuenya nanti antar ke kamar, ya," titahnya pada sang pelayan. "Baik, Tuan. Tuan mau minum apa?" tanya Bi Ijah. "Nggak usah, Bi. Sudah dibuatkan Evelyn tadi." Rayyan berkata dengan kedua mata yang ia arahkan ke atas meja. "Baik, Tuan. Nanti akan saya antar kuenya ke kamar Tuan," ujar Bi Ijah pada akhirnya. Rayyan pun lantas melangkah pergi menuju kamarnya bersama dengan Evelyn. "Sayang, kita duduk di balkon, ya," ajaknya. -- Rayyan membuka lebar pintu kamarnya, membiarkan udara segar masuk ke dalam kamar. Di atas sana, langit sedang terang oleh gemerlap lautan bintang. "Mas, Mas mau ngomong apa sih?" tanya Evelyn penasaran. Tok tok tok' Sebelum Rayyan sempat berkata, suara ketukan pelan di pintu sudah terdengar. "Masuk aja, Bi." Bi Ijah datang dengan membawa segelas teh lemon hangat yang disukai Evelyn, dan juga kue yang Rayyan beli tadi. Betapa senangnya Evelyn karena itu adalah kue kesukaannya. "Kamu yang beli kue ini kan, Sayang?" tanya Evelyn. "Tentu, memangnya siapa lagi?" jawab Rayyan. "Makasih ya, Mas." Melihat istrinya dengan lahap menyantap kue pemberiannya, Rayyan rasa suasana hati Evelyn sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Mereka berbincang-bincang kecil, menikmati udara malam yang dingin dan indahnya langit malam. Rayyan mencoba mencari celah untuk membicarakan terkait kepergiannya dua hari ke depan pada istrinya itu. Sebisa mungkin, dia tidak mau jika Evelyn sampai merajuk nantinya.. "Bagaimana ... enak?" tanyanya. "Enak sekali, Mas." "Syukurlah kalau kamu menikmatinya." Bagaimana tidak ... Evelyn memang sedang mengidam makan kue itu, baru saja dia berniat esok atau lusa untuk membelinya. Namun, siapa sangka sang suami justru lebih dulu membelikannya. "Mami ada urusan apa, Mas?" tanya Evelyn seraya menyeruput minumannya. "Itu, sebenarnya mami memintaku untuk mengantar Oma berobat, Lyn," jawab Rayyan.. "Oh ... lalu?" tanya Evelyn lagi yang kini tampak lebih serius menatap wajah sang suami. "Ya, mau bagaimana lagi ... Mau nggak mau aku ya harus ikut. Gimana bisa aku nolak Mami." Evelyn mengangguk-angguk pelan. "Ya udah, ikut saja ... aku pikir Mami minta kamu untuk pergi ke luar kota lagi," ucapnya seraya mengerucutkan bibirnya. "Tapi ... Nanti kami akan pergi selama dua hari, Lyn." Rayyan berkata dengan menampilkan rasa bersalah di wajahnya. "Dua hari?" Evelyn pura-pura kaget. Padahal di dalam hatinya, Evelyn sedang berlonjak kegirangan. Namun, tentu saja dia berusaha agar Rayyan tidak mengetahuinya, Evelyn tetap menampilkan wajah tenang. "Mau gimana lagi, kalau aku larang pun, kamu tetap harus pergi 'kan, Mas?" ujarnya. Rayyan mengangguk pelan. "Maafkan aku, Sayang. Padahal, aku udah bujuk Mami untuk ajak kamu, tapi—" "Stop! Nggak usah diteruskan, aku udah tahu jawabannya ... pergi aja, aku nggak apa-apa." "Maafkan aku, Evelyn ...," lirihnya. Evelyn menghampiri Rayyan, lalu duduk di pangkuan sang suami. "Jangan khawatir, serius aku nggak apa-apa. Pergi aja, Sayang. Kamu nggak mau kan kalau Mami murka?" "Kamu nggak marah, Sayang?" tanya Rayyan. Evelyn menggeleng. Bagaimana dia bisa marah karena justru itu hal yang sangat dia tunggu-tunggu. Dia justru mengangguk pelan, memberikan izin pada suaminya. "Makasih ya, Lyn." Rayyan memeluk erat tubuh istri tercinta tersebut. "Sama-sama, Honey." Rayyan melingkarkan tangannya pada pinggang Evelyn. Malam itu mereka menikmati indahnya malam dengan penuh romantisme selayaknya pasangan suami istri yang saling mencintai. Andai saja Rayyan tahu jika cinta tulusnya sudah ternoda oleh pengkhianatan. "Aku tahu ini semua pasti berat untukmu, Lyn," ucap Rayyan tiba-tiba. "Aku seringkali harus pergi, dan mungkin itu membuatmu kesepian. Maafkan Papi ya, Nak." Rayyan berkata serah mengusap perut Evelyn yang masih terlihat rata. Evelyn terdiam, tak menyangka Rayyan akan mengatakan hal seperti itu. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi ia berusaha menahan air mata agar tidak jatuh. Kata-kata lembut Rayyan justru membuat perasaannya semakin terluka. "Hei... Jangan katakan itu. Itu semua bukan inginmu, Mas. Semua ini bukan salahmu," gumamnya lirih. Rayyan menarik Evelyn ke dalam pelukannya, membiarkan kehangatan itu mengalir meski Evelyn merasa canggung dan bersalah. Di luar kamar, Bi Ijah hanya bisa menatap nanar ke arah pintu yang masih terbuka. Di balik wajah tabahnya, ia menyimpan rahasia besar yang mungkin tak pernah bisa ia ungkapkan pada Rayyan. Meskipun sakit, ia tetap harus menjaga mulutnya rapat demi bertahan hidup dalam keluarga ini. Namun, hatinya berbisik bahwa kebohongan ini tak akan bisa bertahan selamanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN