Bab 15. Hasil Tes

1217 Kata
Saat di depan pintu, Rayyan melihat Bi Ijah yang tengah sibuk menyapu teras. Ia melangkah mendekat dan tersenyum ramah. "Bi, saya benar-benar titip Evelyn ya. Jangan lupa telepon saya kalau ada apa-apa sama Nyonya." Bi Ijah mengangguk pelan, memaksakan senyum yang berat di hadapan sang tuan. "Iya, Tuan Rayyan." Rayyan mengangguk, lalu melangkah menuju mobil. Namun sebelum masuk, ia menatap rumahnya sejenak, seperti ingin memastikan jika semuanya baik-baik saja. "Sampai kapan kamu akan terus bermain, Lyn?" "Sudah, Bi. Jangan khawatir, saya juga akan cepat kembali," ucapnya sambil melambaikan tangan. Setelah itu, Rayyan pun akhirnya masuk ke dalam mobil dan pergi, meninggalkan Bi Ijah dan Evelyn di rumah. Begitu mobil Rayyan menghilang di kejauhan, Bi Ijah segera masuk ke dalam rumah, mendapati Evelyn yang berdiri di ruang tengah sambil tersenyum lega. Andre yang tadi bersembunyi di kolong ranjang sudah keluar dan kini berjalan santai ke arah Evelyn, menyeringai penuh kemenangan. Bi Ijah menatap mereka dengan rasa iba sekaligus kecewa yang mendalam. Tapi sekali lagi, ia hanya bisa menghela napas panjang dan kembali ke dapur, memilih untuk tetap diam seperti biasanya. Di hatinya, ia terus berdoa agar Tuhan membuka mata Rayyan tentang apa yang sebenarnya terjadi di rumahnya sendiri. Setelah memastikan semua barangnya lengkap, Rayyan kembali melaju di jalanan yang sedikit lengang pagi itu. Tangan kirinya membuka dashboard mobil, lalu mengeluarkan sebuah amplop coklat yang masih tertutup rapat. Dia menatapnya sekilas, kemudian tersenyum samar. "Tidak akan aku biarkan satu orang pun tahu," gumamnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar di dalam mobil. Rayyan menggenggam erat amplop itu, seolah menyimpan rahasia besar yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Evelyn. Dengan tatapan penuh arti, ia memasukkan kembali amplop itu ke dalam dasboard, menutupnya, lalu fokus menyetir. Di dalam rumah, Evelyn yang kini merasa aman dari ancaman ketahuan mulai bangkit dari ranjangnya. Dia merapikan rambutnya sedikit, lalu menunduk, mengulurkan tangan ke kolong ranjang. "Sudah aman, kamu bisa keluar," bisiknya. Andre menggerutu pelan, mendorong dirinya keluar dari tempat persembunyiannya yang sempit dan berdebu. "Astaga, ini pertama kalinya aku harus bersembunyi seperti ini. Memalukan!" keluhnya seraya membersihkan tubuhnya yang terkena debu. Evelyn terkikik kecil, kemudian mendekat dan melingkarkan lengannya di leher Andre. "Untung saja dia tidak lihat kamu, Ndre." Andre menyipitkan mata, kemudian memegang dagu Evelyn. "Kamu yakin?" Evelyn mengerutkan dahi. "Maksudnya?" Andre berjalan ke jendela, mengintip ke luar rumah. "Rayyan seharusnya tidak pulang hanya untuk mengambil ponselnya. Aku sudah mengenal dia terlalu lama. Aku tahu dia tipe pria seperti apa. Rayyan terlalu rapi dan teratur untuk melupakan hal sekecil itu. Aku yakin ada sesuatu yang dia curigai." Evelyn tertawa kecil, menepis kekhawatiran Andre. "Kamu terlalu berlebihan, Ndre." Namun, di tempat lain, Rayyan tidak langsung pergi menuju kediaman Permana. Mobilnya berhenti di sebuah kafe kecil yang tampak sepi. Setelah mematikan mesin, ia membuka amplop coklat itu dengan tangan sedikit gemetar. Rayyan menatap lembar putih yang ada di tangannya. Matanya bergerak membaca setiap kata yang tertulis dengan jelas di sana. Hasil pemeriksaan kesuburan. Tidak ditemukan sel s****a aktif. Kesimpulan: Pasien mengalami azoospermia, kemungkinan besar tidak dapat memiliki keturunan secara alami. Tangan Rayyan menegang. Napasnya tercekat. Perlahan, ia menutup amplop itu dan meletakkannya di kursi kosong samping kemudi. Dunianya terasa berputar. Semua rencana, semua impian tentang keluarga yang sempurna bersama Evelyn, hancur bersama dengan kabar kehamilan yang ia dapat dari Evelyn. Evelyn hamil, tetapi anak itu… bukan anaknya, dan Rayyan sudah tahu hal itu. Rayyan mengepalkan tangan. Kepalanya dipenuhi pertanyaan. Sejak kapan? Dengan siapa? Ia menatap amplop itu sekali lagi. Jika ia tidak bisa memiliki anak… lalu siapa ayah dari bayi yang dikandung Evelyn? -- Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, mobil Rayyan akhirnya tiba di kediaman keluarga Permana. Rumah yang megah dengan taman yang terawat rapi menyambut kedatangannya. Ia menghirup udara segar sebelum keluar dari mobil, memenuhi janjinya untuk menjemput sang nenek. Rayyan mengetuk pintu, dan tak lama kemudian, Sarah, maminya, membukakan pintu dengan senyum lebar. "Rayyan, kamu sudah datang, Nak," sapanya penuh kehangatan. "Mam, mana Oma?" tanya Rayyan. Namun, ia tidak bisa mengabaikan tatapan tajam dari Sarah yang tampak menyelidik. "Dan Evelyn? Dia nggak ikut kan?" tanya Sarah, mengangkat alisnya dengan curiga. Rayyan merasa tertegun sejenak. "Nggak, Mam. Evelyn di rumah. Apa perlu Rayyan jemput Evelyn, Mam?" "Jangan! Mami nggak mau!" ketus Sarah. "Mami —" "Rayyan, sana kamu jemput Oma di kamar!" potong Sarah cepat. Tanpa banyak bicara, ia pun berjalan ke arah kamar Oma Maria, meninggalkan Sarah yang masih berdiri di ruang tamu dengan wajah, ah menyebalkan. Sesampainya di depan kamar, Rayyan mengetuk pintu dengan lembut. "Oma ... Aku datang buat jemput Oma," panggilnya penuh hormat. Dari balik pintu terdengar suara Oma Maria yang lembut namun penuh semangat. "Rayyan! Nak, akhirnya kamu datang!" Pintu kamar terbuka, memperlihatkan sosok Oma Maria yang selalu anggun dalam balutan kain selendang sebagai ciri khasnya. Ia tersenyum lebar, menatap cucunya dengan penuh kasih. "Oma sudah siap?" tanya Rayyan sambil menggenggam tangan neneknya. "Tentu saja. Menyenangkan rasanya kamu masih mau menuruti permintaan Oma. Kamu membuktikan kalau masih menjadi putra keluarga Permana," ujar Oma Maria dengan nada yang terdengar sarkas. Tak jauh beda dengan Sarah, dirinya pun sebenarnya tidak menghendaki Rayyan menikahi wanita biasa dan kampungan seperti Evelyn. Rayyan pun menggandeng tangan keriput sang nenek dan mengajaknya berjalan ke ruang tamu. Sarah sudah menunggu di sana, sambil melirik jam di pergelangan tangan dengan sikap tidak sabar. "Oma udah siap, Mam," ucap Rayyan, mencoba membuat suasana lebih ringan. Sarah menatap Rayyan dan Oma Maria dengan senyum yang jelas terpancar, lalu berkata, "Kalau begitu, kita segera berangkat." Rayyan hanya mengangguk, tak ingin menimbulkan perdebatan di hadapan neneknya. Ia tahu, hubungan antara maminya dan Evelyn memang tidak pernah hangat. Sejak awal, Sarah selalu menganggap Evelyn sebagai ancaman bagi status keluarga Anggara. Baginya, Evelyn bukanlah pasangan yang pantas untuk Rayyan, terutama karena latar belakangnya yang tidak jelas. "Apa kamu sudah mengatakan pada istrimu itu, Rayyan?" tanya Sarah di dalam mobil. "Sudah, Mam," jawab Rayyan malas. "Lalu apa reaksinya?" tanya Sarah lagi. "Ya buktinya sekarang Rayyan di sini 'kan, sama Mami. Evelyn itu wanita yang baik, Mami. Dia mengizinkan Rayyan untuk temani Oma. Jadi tolonglah, Mami —" “Rayyan, kamu tahu jika persaingan bisnis itu berat. Keluarga kita ini punya standar yang tinggi. Menikah dengan seseorang seperti Evelyn… adalah keputusan yang tak mudah diterima semua orang,” sela Oma Maria yang tak ingin mendengar pembicaraan tentang Evelyn. Rayyan terdiam sesaat, lalu menarik napas panjang. “Oma, aku mencintai Evelyn apa adanya. Bagiku, status sosial atau kekayaan tak akan mengubah perasaanku padanya.” Oma Maria tersenyum samar, meskipun wajahnya tak bisa sepenuhnya menyembunyikan rasa kurang sreg. “Kamu masih muda, Rayyan. Kadang cinta yang buta bisa membuat kita lupa akan kewajiban pada keluarga. Tapi Oma mengerti, kamu punya hak untuk memilih.” Rayyan merasa sedikit lega mendengar kalimat itu. Meskipun Oma Maria tidak sepenuhnya mendukung, setidaknya ia tidak sekeras Sarah. Saat itu, keheningan di dalam mobil terasa semakin tegang. Rayyan hanya menatap jalanan di depannya, mencoba menahan rasa gusar yang muncul setiap kali ibunya, Sarah, membuka topik tentang Evelyn. Namun, belum sempat Rayyan merasa lega setelah mendengar kalimat Oma Maria yang sedikit melunak, Sarah tiba-tiba menyela. “Kenapa Mama selalu membela, Rayyan?" tanya Sarah yang kini beralih pada Maria. “Kamu tahu jika apa yang kamu lakukan itu salah, Rayyan. Dan suatu saat nanti Mami yakin kamu akan menyesal karena telah memilih wanita seperti Evelyn,” ucap Sarah dengan nada yang berat dan tegas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN