Sella menatap bingung setelah bosnya mengatakan dia orangnya? Apa maksud dari perkataan yang ambigu itu?
Ia sangat takut posisinya akan digantikan oleh sekretaris cadangan. Sejujurnya ia sangat membutuhkan uang untuk pengobatan ayahnya yang sakit keras dan untuk merenovasi rumahnya di kampung.
Selama lima tahun bekerja di perusahaan milik Bima Perkasa, uang gajinya habis hanya untuk bayar hutang kedua orang tuanya dan membiayai pengobatan ayahnya yang terkena penyakit ginjal.
Bapaknya harus melakukan cuci darah setiap minggu seumur hidupnya. Karena semua tanggung jawab yang dilimpahkan keseluruhannya pada Sella, membuat Sella benar benar takut kehilangan pekerjaannya saat ini.
"Pak, saya mohon jangan pecat saya," isak Sella lalu kembali meraih tissue di atas meja.
"Yang mau mecat kamu siapa? Saya bilang kamu adalah orang yang saya cari."
"Saya orang yang Bapak cari? Apa itu artinya saya ini adik perempuan Bapak? Saya anaknya Nyonya Jihan? Atau anak dari istri simpanan Tuan Pram?" Sella membulatkan kedua mata sambil tersenyum sangat lebar. Selama ini dia sering bermimpi memilki orang tua kaya raya. Apa mungkin mimpinya terwujud?
"Kalau ngomong jangan sembarangan! Kamu pikir Papa saya lelaki hidung belang? Jangankan punya istri simpanan. Duit simpanan aja dia ngga punya! Lagian kamu, kalau saya ngomong jangan langsung di potong!"
"Ya abis Bapak ngomong setengah setengah, kentang banget Pak."
"Apanya yang kentang?" Seketika itu pikiran Bima melayang jauh. Istilah kentang anak jaman sekarang itu kan, Kena Tanggung (atau kurang klimaks)
Bima menatap dengan tatapan mengintimidasi, "Saya pikir kamu cupu, ternyata suhu."
"Eh, apaan lagi Pak? Pake bawa bawa suhu badan segala? Bapak pikir saya sakit coronce?" celetuk Sella.
"Ngomong sama kamu kayak ngomong sama adik saya, ngga pernah nyambung!"
"Emangnya Bapak punya adik? Bukannya Bapak anak tunggal?" Sella memicing.
"Ya itu sebabnya saya bilang ngga nyambung, karena saya ngga pernah ngomong sama adik saya."
Sella memijat keningnya yang mengkilat. Keseharian mereka memang seperti ini, bicara tidak pernah serius kalau bukan urusan pekerjaan.
Terkadang Sella juga menjadi tempat sampah Bima, tempat membuang segala keluh kesah bosnya itu.
Mungkin karena Sella sudah lama bekerja dengan Bima, hingga membuat keduanya sudah seperti kakak dan adik.
"Jadi sebenarnya tujuan saya ada di ruangan ini, mau apa?" tanya Sella.
"Lah, kenapa kamu yang nanya begitu? Harusnya saya yang nanya. Kamu mau ngapain ke ruangan saya?"
"Eh, iya lupa. Maksud saya, tadi Bapak bilang saya orang yang tepat maksudnya apa?"
Bima menatap Sella lekat. Sejujurnya dia malu untuk mengatakan penyakitnya pada Sella, tetapi kalau dipikir pikir lagi. Seandainya dia mencari sekretaris cadangan yang ternyata hanya dia jadikan Ibu Su-su, itu artinya akan semakin banyak yang tahu kekurangannya sebagai lelaki yang sering mendapatkan pujian dari orang orang, sebagai lelaki sempurna.
Namun kalau dia hanya mengatakan pada Sella, dia yakin Sella akan merahasiakan itu semua. Apalagi mereka sangat dekat seperti kakak adik. Pasti Sella mau merahasiakan semuanya.
Bima memicingkan kedua mata, fokusnya masih ke arah bundaran kenyal yang selama ini dia abaikan.
"Kamu bilang kamu punya masalah kelebihan hormon? Bisa jelaskan seperti apa?" tanya Bima ingin tahu lebih detail tentang penyakit seperti itu.
Sella menghela napas panjang, "Tapi janji ya Pak jangan kasih tahu siapapun dan jangan ketawain saya."
Bima mengulum senyuman.
"Tuh, belum apa apa udah mau ketawa aja." Sella merengut.
"Iya saya janji saya ngga akan kasih tahu siapapun. Cepat katakan apa penyakit yang kamu derita? Parah? Udah Stadion berapa?"
"Stadium Pak, bukan Stadion!"
"Iya itu maksud saya." Bima mengangguk sambil menjentikan jari.
"Saya bukan kena kanker Pak, saya cuma kelebihan hormon aja. Nama kerennya sih Hiperestrogenisme atau estrogen dominance," jelas Sella.
"Saya ngga mau tahu bahasa kerennya, saya mau tahu penyakit apa itu? Parah atau ngga?" tukas Bima.
"Kelebihan hormon Pak, jadi saya bisa memproduksi ASI walau saya belum menikah dan ASI saya kebanyakan. Bapak liat sendiri, ini udah bengkak. Rasanya sakit banget Pak, ngilu. Setiap hari saya harus memompa ASI biar ngga sakit lagi." Sella menunjukkan bagian dadanya ke depan Bima.
Untung saja Presdir loyo itu benar benar loyo dan tidak b*******h sama sekali pada Sella.
Apalagi selama ini hubungan mereka sangat dekat. Namun anehnya, selama lima tahu dia mengenal Sella. Dia tidak pernah menyadari ada keanehan pada Sella. Apa mungkin karena dia memang tidak bisa bern-afsu pada wanita? Itu sebabnya dia kurang peka dengan sekelilingnya?
Bima manggut-manggut setelah mendengar penjelasan Sella, "Pantas saja kamu sering ganti pakaian, saya pikir kamu punya masalah bau badan."
"Bukan Pak, tapi karena ASI saya sering bocor." Sella menundukkan kepala. Sebenarnya dia malu mengatakan ini pada bosnya, tetapi dia terpaksa mengatakannya karena ditanya terus menerus.
Bima kembali manggut-manggut. Walau tidak begitu mengerti, tetapi dia coba untuk mengerti agar tidak terlalu kelihatan bodoh di depan sekretarisnya.
"Kok kita jadi ngomongin Su-su, Pak?" Sella menyadari kejanggalan tentang obrolan mereka dari tadi.
"Okeh, sekarang saya putuskan untuk memilihmu menjadi Ibu s**u saya. Daripada saya harus ken-yot ken-yot cewek yang isinya angin, mending saya ke-nyot Su-su kamu yang jelas jelas ada airnya," kekeh Bima langsung ke inti pembahasan mereka.
Mendengar itu tentu saja membuat Sella terkejut bukan main. Selama ini dia mengenal Bima sebagai lelaki baik baik, yang justru dia anggap bosnya itu adalah Gay, tetapi sekarang dia mendengar sendiri kalau Bima memilihnya untuk menjadi Ibu s**u?
"Bapak demam? Saya antar ke dokter ya?" Sella menatap khawatir.
Bima yang tadinya berdiri kembali duduk lalu meraih tangan Sella yang berada di atas meja.
"Sell. Please bantu saya. Sebenarnya saya ini memiliki masalah pada difungsi seksual. Kamu tahu kan i-itu saya ngga bisa berdiri, dan Mama saya menemukan cara efektif agar Burung saya bisa berkicau. Ya itu tadi caranya, saya harus menyusu dari wanita cantik. Agar Burung Perkutut saya bisa berdiri."
Sella benar benar dibuat tidak mengerti dengan jalan pikiran bosnya.
"Itu Bapak … layu?"
Bima manggut-manggut.
"Lima ratus juta selama satu bulan. Mau atau tidak?" tegas Bima.
Sella membulatkan kedua matanya sangat lebar. Dari mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Ngepet juga belum tentu bisa membobol brankas orang kaya.
Dengan uang sebanyak itu dia bisa membiayai pengobatan ayahnya dan juga membuka usaha di kampung agar dia tidak terus terusan diteror keluarganya di sana.
"Gimana? Mau atau tidak?" tanya Bima.
"Saya mau Pak, dari pada mubazir Su-su saya di buang buang." Sella mengangguk setuju dengan tawaran itu. "Tapi cuma nyusuin aja kan Pak? Ngga icip icip yang lain? Soalnya saya masih PW."
Bima melotot, "Kamu yakin masih PW?" tanyanya tidak percaya.
"Bapak ngga percaya? Mau lihat?" tantang Sella.
"Boleh, kalau kamu bisa bangunin Burung saya. Saya coba sekalian," kekeh Bima.
Sella mendelikkan kedua matanya.
"Tolong rahasiakan ini dari orang orang, atau saya akan memecat kamu!" Bima mulai ke mode serius.
"Bapak juga, tolong rahasiakan kelebihan hormon saya sama orang orang. Atau saya …."
"Atau apa? Kamu ngancem saya?" Bima berdiri dari tempat duduknya.
"Eh, ngga Pak. Atau itu atau saya … saya elus-elus Burung Perkutut Bapak biar bisa berkicau." Sella berdiri lalu berjalan cepat ke pintu. "Saya permisi Pak."
"Kamu sudah boleh bekerja mulai malam ini. Jangan pulang dulu, kamu harus ikut saya ke suatu tempat. Saya mau membersihkan tubuhmu dulu, takut ada asin asin kecutnya."
Sella melongo lalu mencium aroma tubuhnya. Ketika kiri lalu kanan tidak luput dari pemeriksaan. "Enak aja, saya ngga ada masalah bau badan kok."
"Pokoknya saya mau kamu mandi ke Sauna dulu. Sudah sana keluar!" usir Bima mengayunkan tangannya.
Tak berapa lama setelah Sella kembali ke meja kerjanya. Seorang HRD masuk ke dalam.
"Pak, para calon sekretaris cadangan sudah datang," ucap HRD.
"Suruh mereka pulang." Bima menjawab tanpa menoleh sedikit pun. Ia tetap fokus pada laptop di depannya.
"Loh Pak? Tadi Bapak yang meminta dicarikan sekretaris cadangan? Kan semua CV dari para pelamar kerja sudah Bapak cek."
"Saya bilang suruh mereka semua pulang. Saya berubah pikiran. Saya ngga butuh sekretaris cadangan. Saya hanya butuh Sella. Kenapa? Kamu mau protes?" Kali ini Bima menatap HRD itu dengan tatapan tajam.
"Ngga Pak. Maaf Pak. Saya permisi." HRD keluar dari ruangan Bima dengan wajah bingung. Ia tidak berhenti menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Apa yang harus aku katakan pada calon sekretaris gadungan itu?" gumam HRD.
"Cadangan," tandas Sella.
"Itu maksudnya." HRD menepuk jidat lalu berjalan ke ruang tunggu.
Sella tersenyum lega. Akhirnya posisi dia tidak akan digantikan oleh siapa pun. Justru dia akan mendapatkan uang kaget dari bosnya.
"Lima ratus juta? Kapan lagi aku dapat uang kaget? Uang sebanyak itu bisa untuk beli sawah, sapi, kambing, kebo, ampe ke anak cucunya juga bisa aku beli," kekeh Sella.
Ia meremas buah dadanya yang mulai terasa ngilu dan sakit. Dengan cepat ia mengambil alat pompa ASI di dalam laci lalu berlari ke kamar mandi.
"Ada untungnya juga aku punya masalah hormon begini," kekeh Sella.
***
Di ruangan Bima.
Bima menerima telepon dari seorang wanita cantik. Siapa lagi kalau bukan ....
"Gimana kamu sudah dapat belum Ibu Susunya?"
"Sudah, malah dia masih PW," jawab Bima.
"Masih perawan? Kamu yakin? Mana ada perawan yang bisa menghasilkan ASI? Mama tahu kamu suka bercanda, tapi candaanmu kali ini ngga lucu!"
"Aku serius Ma, aku udah dapat Ibu Susunya, dan dia masih perawan. Bukannya itu bagus? Jadi aku ngga perlu berbagi sama anaknya buat mimi Susu."
"Iya sih, cuma agak janggal aja. Masa sih ada perawan yang bisa menghasilkan ASI?"
"Udahlah Ma, ngga usah bahas tentang itu. Yang penting kan aku udah dapat Ibu Susunya."
"Ya udah, semoga usaha kali ini membuahkan hasil."