Sebuah Pilihan

1487 Kata

Annisa menarik napas panjang sebelum masuk ke ruangan itu. Biasanya dia santai saja, tetapi hari ini agak sedikit gugup karena akan mengucapkan salam perpisahan. "Masuk, Nisa," kata Andra ketika wanita itu mengetuk dan membuka sedikit daun pintu. Aroma harum seketika menguar di indra penciuman Annisa. Tak hanya ruangan ini yang wangi, tetapi juga pemiliknya. Itulah yang membuat daya tarik Andra begitu kuat di mata kaum Hawa. "Ini berkasnya, Pak," ucapnya sembari meletakkan setumpuk kertas di meja. Andra mengambilnya lalu membaca dengan teliti. "Duduk dulu, lah. Kok tegang begitu," kata Andra heran seraya menatap Annisa dengan lekat. "Eh iya, Pak." Annisa menarik kursi dan duduk dengan gelisah. Gesture tubuhnya terlihat jelas sehingga membuat Andra menghentikan aktivitasnya. "Ke

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN