Jordan melangkahkan kakinya dengan riang menuju ruang kerjanya. Begitu Jordan membuka pintu ruangannya, Jordan segera menaruh tas kerjanya lalu mulai menyalakan komputer miliknya masih sambil bersenandung. Setelah mengetahui nama dan dimana wanita itu bekerja, malamnya Jordan menghubungi Aida apa dirinya boleh menjemput Alex besok lusa. Jordan mengelak jika di tanya kenapa, karena biasanya ia hanya akan menjadi sopir mereka karena terlalu malas jika harus menunggu di depan kelas Alex. Bukan karena ia tidak menyukai anak-anak tetapi karena para ibu-ibu yang menatap dan bertanya terus menerus hingga membuat Jordan jengah. Tidak susah membuat Aida menyetujui keinginannya, dengan iming-iming memberi Aida tiket nonton berdua dengan suaminya. Jordan meregangkan kedua tangannya, ponsel mi

