Ian tidak memperdulikan ponselnya terus berdering, bukan hanya sekali tapi berkali-kali. Rea bahkan menyuruh Ian untuk mengangkatnya karena bisa saja itu panggilan penting. Ian mengambil ponsel dari kantong celananya, melihat nama yang tertera di layar makin membuatnya enggan untuk mengangkatnya. Karena kesal, Ian mematikan ponselnya dan kembali menaruhnya di kantong celana. "Kenapa tidak di angkat?" "Sepertinya salah sambung, tidak ada namanya." Dusta Ian. "Bagaimana kalau itu panggilan penting?" "Nanti akan ku hubungi balik. Ayo kita susul yang lain" Ian menautkan jemarinya dengan jemari Rea, menarik pelan wanita itu agar segera menyusul Aida dan yang lainnya. Rea menghembuskan nafasnya lalu mengikuti Ian untuk segera bergabung bersama mereka. Hari ini adalah hari terakhir me

