Bab 51

1105 Kata

Aurel berjalan beberapa langkah di belakang Samuel, mengikuti arah cahaya lampu taman yang berpendar lembut. Angin Kyoto berhembus pelan, membawa aroma bunga kamelia yang tumbuh di sepanjang jalan kecil menuju gazebo kayu itu. Suasananya tenang, hampir mustahil membayangkan bahwa beberapa jam lalu ia menangis di pelukan pria yang berjalan tepat di depannya sekarang. Samuel berhenti di depan anak tangga kecil yang mengarah ke gazebo, lalu menoleh padanya. Tatapannya tidak setegang tadi, tapi ada sesuatu yang berubah—lebih lembut, lebih hati-hati, seolah ia sedang menjaga sesuatu yang rapuh. “Aurel,” panggilnya pelan. “Naik pelan-pelan. Tangannya dingin?” Aurel menggeleng, meski sebenarnya jarinya mulai membeku. “Nggak. Aku baik.” Samuel menatapnya beberapa detik, lalu mengulurkan tangan.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN