Aurel menggigit bibirnya pelan, mencoba menyerap udara dingin Kyoto yang menusuk tulang. Mereka sudah keluar dari restoran tempat makan malam barusan, namun langkahnya terasa berat. Bukan karena lelah, tapi karena kata-kata Samuel masih terjebak di kepalanya. Tentang kontrak. Tentang batas. Tentang Chelsea. Ia meremas tali tasnya lebih keras, merasa perasaannya seperti benang kusut yang tidak tahu ujungnya di mana. Samuel berjalan di sampingnya, kedua tangannya masuk ke dalam saku mantel. Ia tidak bicara, namun sesekali menoleh memastikan Aurel tidak terpeleset di jalanan batu yang sedikit licin. Dari sudut matanya, Aurel dapat melihat rahang pria itu mengeras, seolah menahan kata-kata yang terlalu bahaya untuk diucapkan. “Samuel…” Aurel memberanikan diri memanggil. Samuel berhenti. M

