Suara mesin monitor berdetak pelan ketika kelopak mata Samuel mulai bergerak. Perlahan, ia membuka matanya, menatap langit-langit putih ruangan yang asing. Aroma antiseptik menyengat langsung menyadarkannya bahwa ia berada di rumah sakit. Tubuhnya terasa berat, dan lengan kirinya seperti tak bisa digerakkan. Saat pandangannya beralih, ia melihat gips tebal melingkari lengannya, serta perban di pelipisnya. Beberapa detik kemudian, pintu ruangan terbuka. Okan masuk dengan wajah lega sekaligus tegang. “Tuan Samuel, Anda sudah sadar,” ucapnya sambil cepat menghampiri. Ia menekan tombol panggil untuk memanggil perawat, tapi Samuel menahan tangannya. “Tidak perlu,” katanya dengan suara berat dan parau. “Berapa lama aku di sini?” Okan menjawab hati-hati, “Sekitar satu hari, Tuan. Dokter bila

