Tembakan kedua menghantam kaca belakang. Suara pecahannya membuatku menjerit pelan dan spontan memeluk lengan Samuel. Pengawal di depan langsung mengeluarkan senjata, sementara sopir memutar kemudi dengan kecepatan yang membuat tubuhku terhuyung ke arahnya. “Aurel, tetap dekat denganku,” Samuel menunduk, melindungi tubuhku dari pecahan kaca yang beterbangan. Mobil berbelok tajam memasuki jalan sempit di antara gedung-gedung. Aku bisa mendengar ban mobil belakang menggesek aspal, mengejar tanpa henti. “Kita tidak bisa terus begini,” suara pengawal itu terdengar tegang. “Sudah ada unit yang menunggu di depan,” jawab Samuel cepat. “Fokus dan jangan biarkan mereka mendekat.” Aku merasakan seluruh tubuhku gemetar hebat. Bahkan bernapas terasa menyakitkan. Dunia di sekeliling kami bergerak

