Samuel menatap Aurel yang masih menggenggam tangannya di tepi jembatan. Udara malam Tokyo yang dingin seakan kehilangan tajamnya ketika kehangatan tubuh mereka berdekatan. Lampu-lampu neon memantul di genangan air hujan yang belum sepenuhnya kering, menciptakan pola cahaya yang bergerak pelan di kaki mereka. Aurel merasakan ketegangan di dadanya, antara rasa aman yang diberikan Samuel dan kekhawatiran yang muncul dari telepon ibunya. Ia menundukkan kepala sejenak, mencoba menenangkan diri. “Samuel…” suaranya terdengar lembut, tapi penuh dengan pertanyaan yang tidak terucapkan sepenuhnya. Samuel menghela napas panjang, menatap Aurel lama sebelum berbicara. “Aku tahu ini berat, Aurel. Semua ini… kontrak, ekspektasi, keluarga, masa lalu… aku tahu rasanya seperti dunia menekan kita dari semu

