Part 11

1411 Kata
Keesokan harinya Seperti perkataan Hafiz kemarin jika ia akan mengajak Syifa untuk pindah rumah. Alhamdulillah, sebelum menikah Hafiz sudah memiliki rumah sendiri. Karena itu mereka tidak perlu bingung lagi saat pindahan. Semua barang-barang mereka sudah siap. Mereka tinggal pamit sama Fadlan dan Zulfa. “Kak Hafiz sudah bilang ke Ayah kan kemarin?” tanya Syifa Ia ingin memastikan semuanya sebelum pamit ke rumah baru. Sebenarnya Syifa begitu berat meninggalkan Fadlan di rumah ini, meskipun ada Zulfa dan Zakia. Ia masih ingin menemani Ayahnya. Tapi karena Hafiz sudah meminta tidak mungkin ia menolak permintaan suaminya sendiri. “Sudah.” “Dan Alhamdulillah setelah bicara Ayah setuju kalau kita pindah rumah. Ini semua demi kebaikan rumah tangga kita.” ujar Hafiz Ia mengelus kepala Syifa dengan lembut. Ia mengerti perasaan istrinya. “Kamu tenang aja, ya. Semuanya akan baik-baik saja.” Syifa mengangguk sembari tersenyum kecil. “Iya, kak. Mama pasti bisa menjaga Ayah dengan baik.” “Yaudah. Kita mau pamit sekarang?” “Boleh, kak.” Hafiz menarik dua koper, satu miliknya dan satu miliki istrinya. Syifa hanya membawa satu koper karena kebetulan Hafiz belum membawa sepenuhnya barang-barang miliknya ke rumah ini. Di ruang keluarga terlihat keluarga Syifa berkumpul. Hafiz dan Syifa menghampiri mereka dengan senyuman tipis. “Ayah, Mama!” panggil Hafiz Mereka menatap ke sumber suara saat merasa dipanggil. Fadlan tersenyum melihat kedatangan menantu dan putrinya. Namun berbeda dengan respon Zulfa dan Zakia yang terlihat terkejut karena Hafiz dan Syifa membawa koper. Fadlan berdiri lalu menghampiri Hafiz dan Syifa. “Kalian mau berangkat sekarang?” Hafiz mengangguk sembari tersenyum. “Iya, Ayah. Hafiz dan Syifa mau pamit sekarang!” Mendengar jawaban Hafiz, Zulfa langsung berdiri. Beliau mendekat ke arah suaminya sembari tersenyum kecil. Seketika rasa penasaran menyelimuti hati Zulfa. Beliau ingin tahu ke mana Hafiz dan Syifa pergi. Karena sebelumnya Fadlan tidak mengatakan apapun padanya. “Memangnya kalian mau ke mana, nak?” tanya Zulfa berpura-pura baik. “Kita mau pindah rumah, Ma.” Jawab Hafiz Deg Zulfa dan Zakia terkejut mendengarnya. Namun sebisa mungkin Zulfa mengontrol ekspresi wajahnya agar tetap biasa saja. “Ooh.. tapi kenapa kalian tidak mengatakan apapun ke Mama sebelumnya?” “Hafiz sudah bilang ke Ayah sebelumnya.” Zulfa menatap sebentar ke arah suaminya. Ia terpaksa tersenyum, meskipun dalam hatinya menggerutu tidak terima. Beliau tidak setuju jika Hafiz dan Syifa pergi meninggalkan rumah ini. Karena hal itu membuat rencananya untuk memisahkan mereka semakin sulit. “Ayah kenapa nggak bilang hal ini ke Mama?” tanya Zulfa basa-basi. “Yang terpenting sekarang Mama sudah tahu.” Zulfa tersenyum canggung mendengarnya. “Sialan! Aku benar-benar tidak dianggap di rumah ini.” ucapnya dalam hati “Dan kenapa mereka pindah rumah? Kalau seperti ini caranya aku semakin sulit memisahkan mereka berdua.” Di satu sisi, Zakia menatap Syifa dengan kedua tangan terkepal kuat. Ingin rasanya ia berteriak pada keluarganya jika tidak mengizinkan Hafiz dan Syifa pergi meninggalkan rumah ini. Tapi di sini ia hanyalah anak tiri, tidak berani melakukan apapun. “Aku yakin pasti hal ini permintaan Syifa.” ujar Zakia dalam hati “Dia takut aku mengambil Hafiz darinya.” “Wanita licik!” “Awas saja kamu, Syifa! Aku tidak akan tinggal diam melihat kamu hidup bersama Hafiz. Karena dia adalah calon suamiku.” Zakia tidak rela melihat Hafiz dan Syifa hidup berbahagia. Ia menganggap Syifa telah merebut calon suaminya. Padahal, tepat di hari pernikahannya dengan Hafiz ia memilih untuk kabur hanya karena rasa takut. “Kalau gitu Hafiz dan Syifa mau pamit sekarang, Yah!” ujar Hafiz “Iya, nak. Kalian hati-hati di jalan!” “Doa Ayah selalu menyertai kalian berdua.” ujar Fadlan dengan tulus. Fadlan menarik Syifa ke dalam pelukannya. Beliau pasti akan sangat merindukan putri satu-satunya itu. Tidak, lebih tepatnya putri kandung. Beliau masih belum percaya jika putri kesayangannya sudah menikah, dan sekarang harus pergi ikut bersama suaminya. “Ayah, jangan nangis!” “Kalau Ayah nangis Syifa jadi ikutan sedih.” ucapnya dengan suara bergetar menahan tangis. “Hehehe..” Fadlan terkekeh lalu mengerjapkan matanya berulang kali agar air matanya tidak sampai menetes. Beliau menangkup wajah Syifa sembari menatapnya lekat. “Ayah nggak nangis, sayang.” “Kamu jadi istri yang baik, ya. Jangan suka membantah apa kata suamimu.” Pesan Fadlan untuk putrinya, Syifa. Fadlan yakin Syifa bisa jadi istri yang baik untuk suaminya. Meskipun mereka tidak dalam pengawasannya secara langsung beliau tetap percaya dengan keduanya. Mereka sudah cukup dewasa dan pastinya bijak dalam mengambil keputusan. “Iya, Ayah.” “InsyaAllah, Syifa selalu ingat pesan-pesan Ayah.” ucapnya sembari tersenyum Cup Fadlan mencium kening putrinya cukup lama. “Dah, kalian hati-hati di jalan!” “Iya, Ayah.” “Ma, Syifa pamit!” “Iya, sayang. Sering main-main ke sini, ya.” Syifa mengangguk sembari tersenyum kecil. Sebelum benar-benar pergi Syifa menatap ke arah saudara tirinya, Zakia. Keduanya saling menatap dengan arti masing-masing. Namun tatapan Zakia terlihat sinis dan penuh kebencian. “Syifa, ayo!” ujar Hafiz Seketika lamunannya menghilang setelah mendengar suara suaminya, Hafiz. Mereka melangkah beriringan menuju luar rumah. Perasaan Syifa tidak enak setelah bertatapan dengan Zakia. Tatapan saudara tirinya seolah mengisyaratkan sesuatu. “Astagfirullah’haladzim. Mungkin hanya perasaanku saja.” “Aku harap Kak Zakia bisa mengerti dan berubah menjadi lebih baik.” Doa Syifa dalam hati. Syifa melambaikan tangannya saat mobil yang ditumpangi mulai pergi meninggalkan perkarangan rumah. Ia tersenyum haru menatap sang Ayah tercinta. Ternyata hidupnya sudah dewasa. Bahkan sekarang ia bukan lagi menjadi tanggung jawab Ayahnya lagi, melainkan suaminya. *** Mobil yang Hafiz kendarai memasuki perkarangan rumah yang cukup mewah dan besar. Bahkan Syifa sampai menganga melihatnya. “Kak, ini rumah siapa?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari rumah di hadapannya. Hafiz tersenyum kecil mendengarnya. Bahkan respon Syifa terlihat menggemaskan. “Rumah kita!” “Ha?” “Bukan, lebih tepatnya rumah kamu.” “Ha?” Syifa semakin terkejut mendengarnya. “Ha, ha, ha, terus aja.” “Udah ah, yuk keluar!” Hafiz mengajak Syifa keluar untuk melihat rumah baru mereka. Tidak, lebih tepatnya rumah lama yang baru mereka tempati. Karena Hafiz sudah menikah rumah di hadapannya saat ini milik istrinya, Syifa. Ia akan mengurus semuanya untuk membalik nama. Karena Hafiz sudah berjanji akan memberikan semua assetnya pada perempuan yang akan menjadi pendamping hidupnya kelak. Dan perempuan itu adalah Syifa! Hafiz menggenggam tangan Syifa membuat lamunan wanita itu sekitar buyar. “Masuk, yuk!” “Eh, tapi koper kita…” “Tenang aja! Sudah ada Pak security yang akan membawa barang-barang kita masuk ke dalam.” Syifa speechless mendengarnya. Dengan wajah bengong Syifa mengikuti langkah suaminya memasuki rumah itu. Saat pintu terbuka mereka langsung disambut kemewahan. Bahkan rumahnya kali ini setara dengan rumah Orang Tuanya. “MasyaAllah.” gumam Syifa berdecak kagum melihat kemegahan rumah ini. “Kamu suka?” tanya Hafiz “Kak, ini terlalu mewah untuk kita berdua.” “Kata siapa kita berdua?!” “Ha? Terus siapa lagi yang tinggal di rumah ini selain kita berdua?” “Ada asisten rumah tangga, dan tentunya security yang berjaga.” Syifa tersenyum mendengarnya. Ia pikir siapa. “Ini beneran rumah kita, kak?” tanyanya sekali lagi untuk memastikan. “Iya, Syifa. Memangnya kamu pikir rumah siapa, hm?” “Syifa masih nggak nyangka aja, kak. Rumah ini terlalu besar dan mewah untuk kita.” Syifa tidak berhenti berdecak kagum. Ia mimpi apa memiliki suami sebaik Hafiz? Padahal selama ini ia banyak kurangnya sebagai seorang anak. Jika Zakia tahu tentang hal ini dia pasti semakin menyesal telah lari di hari pernikahannya bersama Hafiz kemarin. "Hei, kenapa melamun?" Hafiz menepuk bahu Syifa karena melihat istrinya berdiam dengan tatapan kosong. "Astagfirullah." Syifa langsung tersadar dari lamunannya. "Melamun, hm?" Syifa menggeleng pelan. "Enggak kok, kak. Syifa malah tidak berhenti bersyukur bisa menjadi Istri Kak Hafiz." Hafiz tersenyum kecil mendengarnya. "Udah, ah. Semuanya sudah digarikan oleh Allah." "Saya juga tidak sebaik itu sebagai laki-laki. Tapi kita harus tetap belajar menjadi pasangan yang lebih baik ke depannya." Hafiz menggenggam kedua tangan Syifa sembari tersenyum tulus. Tidak ada yang lebih indah selain memiliki suami yang baik dan pengertian. Apalagi bisa membimbing dengan sepenuh hati. "Terima kasih, kak." "Jangan berterima kasih, karena saya belum bisa membuktikan sebagai sosok suami yang bertanggung jawab dan seperti apa yang kamu inginkan. Tapi saya akan terus belajar menjadi lebih baik." Cup Hafiz mencium kening Syifa cukup lama. Pemberiannya saat ini belum cukup membuktikan jika ia sosok suami yang baik untuk istrinya. Apa yang ia lakukan saat ini adalah janjinya saat sebelum menikah. Dan setelah ini kehidupan barunya akan dimulai. Next>>
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN