Drrrrt ! Getar ponsel Adrea yang menandakan pesan masuk. Adrea membuka netranya, menatap sekeliling. Perutnya dilingkari lengan kokoh milik Alfan yang bernafas teratur menggelitik di dekat lehernya. Adrea tersenyum mengingat penyatuan mereka. Bagaimana mereka menghabiskan dua ronde tadi malam. Jika bukan karena ia merengek capek,maka Alfan menghentikannya. Jika tidak, bisa dipastikan Alfan akan melanjutkan ronde selanjutnya. Adrea merasa sedikit perih di bagian bawah.Ia kembali tersenyum mengingat bagaimana naga api milik Alfan menembusnya. Batang kokoh yang ingin sekali dicobanya. Pikiran kotor kembali bermain di otaknya. Adrea segera menepisnya dengan mengambil ponsel di atas nakas di samping ranjang tanpa membangunkan Alfan. Satu pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. "Apa ka