Langit London di bulan April menyuguhkan gradasi warna kelabu yang puitis, namun suhu dingin yang menggigit tak cukup untuk membekukan semangat Regi. Di tribun VVIP stadion sepak bola kebanggaan kota itu, Regi melompat-lompat kegirangan, mengenakan jersey klub favoritnya dengan nama punggung yang khusus dipesan oleh Arsen. "Uncle! Lihat! Mereka hampir mencetak gol!" seru Regi dengan wajah memerah karena antusias. Suara cemprengnya membelah riuh rendah suporter lainnya. Arsen yang duduk di sampingnya tersenyum lebar, sebuah ekspresi yang jarang sekali muncul di majalah-majalah bisnis internasional. "Tenang, Regi. Pertandingan baru saja dimulai. Uncle sudah bilang kan, mereka akan menang hari ini." Arsen melirik ke sisi kirinya. Di sana, Rega duduk dengan punggung tegak, tangan bersed

