Bab 6

1429 Kata
Di bawah guyuran air shower yang membasahi tubuhnya, Khalisa menangis sejadi-jadinya. Arsen memang suaminya, berhak mengambil sesuatu yang sudah dia jaga selama ini. Tetapi kenapa harus dengan cara seperti ini, yang paling menyakitkan, Arsen melakukan dengan membayangkan wanita lain, di ujung kenikmatan nya pria itu menyebut nama wanita lain. Selain hatinya yang sakit, fisiknya pun terluka, kedua pipinya terasa perih akibat tamparan yang begitu keras. Khalisa mengusap wajahnya dengan kasar, air matanya semakin mengalir deras bercampur dengan air shower. Khalisa terkekeh pelan, memukul dadanya yang terasa sesak, pernikahan ini benar-benar membawanya ke dalam jurang penderitaan. Ini baru di awal, masih ada hari-hari berikutnya yang tidak pernah dia ketahui apa yang akan Arsen lakukan padanya. Entah berapa lama Khalisa menghabiskan waktu menangis di kamar mandi. Sedangkan Arsen yang masih terbaring di atas ranjang, mulai mendapatkan kesadarannya, membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa pusing, efek alkohol masih terasa, dia meringis dan perlahan mengubah posisinya untuk bersandar di kepala ranjang. Arsen belum begitu sadar dengan apa yang terjadi, sampai beberapa detik kemudian dia merasakan sesuatu yang dingin pada tubuhnya. Dia menurunkan pandangannya, matanya melebar sempurna ketika melihat tubuhnya yang polos tanpa sehelai kain. Lalu matanya melihat sekeliling, keadaan kamar begitu kacau, bantal dan pakaian berserakan di lantai. “Sialan!!. apa yang di lakukan wanita itu padaku?" kedua tangannya mengepal erat dengan tatapan yang begitu tajam. Arsen meranggapan jika Khalisa memanfaatkan dirinya yang sedang mabuk. Selain itu, Arsen juga di landa kekhawatiran dan rasa bersalah pada kekasihnya. bagaimana kalau sampai Alexia mengetahui hal ini, pasti akan sangat marah padanya. Arsen menggeleng pelan. Tidak, kekasihnya tidak boleh sampai mengetahui tentang apa yang sudah terjadi antara dirinya dan Khalisa. Dia tidak ingin kehilangan Alexia, wanita itu adalah dunianya. “Semua gara-gara wanita sialan itu, Alexia maafkan aku." Gumamnya, dia segera turun dari ranjang, dia harus menemui kekasihnya untuk menebus segala kesalahannya. Namun sebelum pergi, Arsen mencari ponselnya untuk menghubungi kekasihnya. Tidak butuh waktu lama, sambungan telepon langsung terhubung. Arsen: Halo!. sa-sayang, aku merindukan mu. Maafkan aku dan bisakah kita.. Alexia: Maaf kan aku sayang, aku lupa memberitahumu, aku sedang ada project di Bali. Alexia segera menyambar kalimat kekasihnya, baru tadi malam dia berangkat ke Bali dan tidak memberitahu Arsen. Terdengar helaan nafas panjang dari seberang sana, Arsen lupa jika kekasihnya sedang merajuk sehingga tidak memberi tahu dirinya jika sedang ada project di Bali. Arsen: Baiklah, kabari aku kalau kamu sudah kembali, Alexia, aku mencintaimu. Alexia: Aku juga. Setelah itu Alexia mematikan teleponnya, Arsen hanya menghela nafas pasrah, jantungnya berdetak kencang, dia benar-benar khawatir dan tentunya merasa bersalah. Sedangkan di sebuah Vila seorang wanita menatap indahnya pemandangan yang begitu asri. Angin berhembus menerpa wajahnya yang cantik. Dia menutup ponselnya, lalu melipat kedua tangannya di atas d**a, beberapa detik kemudian, matanya terpejam ketika merasakan tangan kekar melingkar di pinggang rampingnya. “Siapa yang berani mengganggu kesenangan kita? kita belum selesai" Ucap pria tersebut sembari mengendus-endus leher jenjang wanita cantik itu. “Tidak perlu aku katakan, kau pastinya sudah tau siapa dia sayang." Jawabnya membalik tubuhnya menghadap sang pria. Melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu, lalu dia memberikan ciuman lembut, perlahan-lahan namun semakin lama semakin brutal, kegiatan panas itu kembali berulang kali. “Kau hanya milikku, aku tidak akan membiarkan siapapun memilikimu." Ucap sang pria, mengecup kening wanitanya. Wanita tersenyum. “Jangan khawatir, aku hanya akan menjadi milikmu, lagi pula kita sudah menikah meskipun hanya menikah siri. tidak ada yang bisa mengambilku dari mu." Pria tersebut memberikan pelukan erat. “Maaf, aku belum bisa memberikan status istri sah padamu dan tolong tetap rahasiakan pernikahan kita." Pintanya, wanita itu hanya mengangguk. Tidak masalah meskipun statusnya hanya istri siri, yang penting kehidupannya terjamin, mendapatkan banyak uang, dan apapun yang dia inginkan selalu terpenuhi tanpa harus mengeluarkan uang pribadinya. ** “Kak, kamu benar-benar melakukannya dengan Khalisa?" Alana duduk mendekati sang kakak. Dia sengaja datang ke perusahaan Arsen setelah mengunjungi Khalisa. Arsen terdiam untuk sesaat, lalu dia melirik adiknya yang terlihat begitu senang. “Dia yang memanfaatkan ku." Jawabnnya Alana manggut-manggut sembari tersenyum tipis. “Tapi kamu menikmatinya kan?" Arsen menoleh memberikan tatapan tajam. “Membayangkan wajahnya saja membuatku jijik, bagaimana bisa kamu mengatakan aku menikmatinya." “Iya, ya.. Hanya Alexia yang bisa membuatmu melayang, begitu?" Tuduh Alana menggelengkan kepala. “Omong kosong apa yang kamu bicarakan, meskipun aku sangat mencintainya, aku tidak pernah menyentuhnya." Jawab Arsen. Alana terkejut, mustahil kakaknya belum pernah melakukannya dengan Alexia, secara mereka adalah pasangan yang sama-sama sudah dewasa. Terlebih penampilan Alexia begitu seksi, tidak mungkin jika Arsen tidak tergoda, bukankah pria itu normal? “Ada apa dengan tatapanmu itu? Kamu tidak percaya dengan kakakmu sendiri?" Alana mengangguk cepat. Mana mungkin dia percaya. Benar-benar mustahil. “Aku mencintainya bukan untuk merusaknya, dan aku masih bisa mengendalikan diriku sendiri, meskipun beberapa kali dia mencoba menggodaku." Ujar Arsen. Meskipun memiliki sifat yang kejam dan kelakuan arogan, wajah m***m, Arsen bisa mengendalikan nafsunya. Dia memiliki prinsipnya sendiri. Tidak melakukan hubungan badan tanpa ada ikatan yang menghalalkan untuk dia sentuh. Dia tidak begitu paham tentang Agama. Tetapi dia pernah mendengar larangan tersebut. Arsen hanya memberikan ciuman dan pelukan saja. Namun terkadang, Alexia menggodanya untuk melakukan hal tersebut, lalu dia menolak dan menebusnya dengan barang-barang branded. Alana mengangguk, dia percaya dengan kakaknya, dia wajahnya ada kepuasan yang begitu jelas. ** Beberapa hari sudah berlalu, sejak kejadian malam itu, Arsen pulang malam dan berangkat pagi-pagi, dia hampir tidak pernah melihat Khalisa. Entah bagaimana keadaan istrinya, dia sama sekali tidak perduli. “Kamu baru pulang?" Tanya Khalisa, dia terbangun ketika mendengar suara pintu terbuka dan melihat Arsen memasuki kamar dengan wajah datar dan tatapan dingin. Pria itu masih menyalahkan dirinya atas kejadian malam itu, sedangkan Khalisa mendengarkan nasehat Alana untuk bersikap biasa saja, sebab dirinya sudah menjadi seorang istri yang sesungguhnya. Arsen tidak menjawab dan melewati dirinya begitu saja, pria itu mengambil pakaian ganti, lalu kembali keluar dari kamar tersebut. Khalisa hanya menghela nafas, membawa pandangannya pada pintu kamar yang terbuka. Entah mau tidur di mana suaminya itu. Tidak mau pusing, dia kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata. biarlah semua berjalan sebagai mana mestinya. Keesokan paginya, Khalisa kembali melakukan kegiatannya, membuat sarapan untuk suaminya. mungkin setelah beberapa hari berlalu, mereka hidup layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Itulah yang Alana katakan. “Mas, aku sudah membuat sarapan, lebih baik sarapan terlebih dulu." Ujarnya, dia memberanikan dirinya untuk menyapa suaminya lebih dulu, meskipun masih ada bayang-bayang kekecewaan. Arsen menoleh dan menatapnya tajam. “Berhenti melakukan hal-hal yang tidak berguna, Khalisa, dan jangan pernah muncul di hadapanku, wanita mura*n sepertimu tidak layak menjadi istriku." Ujar Arsen dengan suara yang merendahkan. Lalu pergi meninggalkan Khalisa. Meskipun pernikahan ini atas dasar paksaan, atau hanya pernikahan di atas kertas, tidak bisalah pria itu menghargainya sedikit saja? Dia menatap sarapan yang sudah tertata rapih di atas meja, Lagi-lagi, Arsen tidak memakannya. “Tuan Arsen, hanya mau makan, masakan yang dibuat Nyonya Alexia, jadi jangan berharap lebih." Ketus salah satu maid yang menatapnya sinis. Khalisa menoleh lalu tersenyum di balik cadarnya. “Tidak ada yang salah dengan harapan dalam pernikahan kami, lalu siapa kamu berani bicara seperti itu padaku?" Maid tesebut tercengang, Khalisa sudah berani menjawab dan melawannya. padahal waktu pertama kali datang sama sekali tidak berani menjawab ataupun menatapnya. “Aku adalah orang kepercayaan Nyonya Alexia. Kehadiran mu sama sekali tidak di anggap oleh Tuan dan tidak akan bisa menggantikan posisi Nyonya Alexia." Jawabnya. Keberaniannya karena dia yang paling dekat dan menjadi orang kepercayaan Alexia. “Ouh, tapi yang di nikahinya secara Sah adalah aku, bagaimana dong?. berarti aku adalah Nyonya rumah ini?" Tuan Adnan, Arsen bisa menindasnya dan menyakiti fisik juga mentalnya, karena dia memikirkan nasib anak-anak panti, tetapi jika Maid yang menindasnya, tentu saja dia harus melawannya. Diamnya bukan tidak berani, jika hanya sadar diri dan membutuhkan Tuan Adnan sebagai donatur di panti untuk anak-anak disana. Khalisa bisa menerima rasa sakit dari pernikahannya, tetapi dia tidak bisa melihat anak-anak terlantar. Maid itu terdiam mendengar jawaban Khalisa dan menatapnya tidak suka, sedangkan yang lain malah tersenyum senang. Istri Tuannya barani melawan. “Kalian, jika ingin sarapan, makanlah, mubazir kalau sampai di buang" Lalu halisa pergi meninggalkan ruang makan membiarkan maid yang menikmati masakannya. Mereka saling pandang dan mengangguk senang, kapan lagi bisa sarapan tanpa harus repot masak sendiri. “Lagaknya sudah seperti Nyonya, lihat saja akan aku adukan pada Nyonya Alexia." Ucap sang Maid benar-benar membenci Khalisa. “Sudahlah Rina, Dia memang Nyonya di rumah ini, yang di nikahi oleh Tuan Arsen." Sahut salah satu dari mereka sembari menikmati sarapan buatan Khalisa. Rina menoleh. “Tuan memang menikahinya tetapi dia tidak di anggap sama sekali. Jangan ikut campur dengan urusanku, atau aku akan mengadukan kalian pada Nyonya Alexia."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN