Bab 4

1126 Kata
Keesokan harinya, tanpa berpamitan pada Ayahnya, Arsen membawa Khalisa pindah ke Apartemen miliknya. Namun di pertengahan jalan yang begitu sepi, Arsen memberhentikan mobilnya. Khalisa menoleh. “Ada apa?" Tanya nya. “Turun!" Ucap Arsen, seketika membuat mata Khalisa melebar. Bagaimana bisa Arsen menurunkan dirinya di tengah-tengah jalanan yang sepi seperti ini, sementara dirinya tidak tau di mana apartemen suaminya itu. “Mas, ini di mana?" “Kamu tidak budegkan? Keluar Khalisa, jangan sampai aku mengulang kembali kalimatku." Tekannya, tidak perduli di mana dia menurunkan istrinya. Khalisa dengan tangan gemetar membuka pintu mobil, lalu menutupnya kembali, Arsen tanpa basa-basi segera pergi meninggalkan istrinya sendirian di jalan. Mata Khalisa celingak-celinguk, tidak ada kendaraan satupun yang lewat, dia berpikir jika Arsen benar-benar sengaja menurunkannya di tempat yang sepi. Matanya mulai memanas sampai butiran bening mengalir begitu saja, dia membawa langkahnya menyelusuri jalanan yang sepi dengan rasa sesak di d**a. Dia tidak tahu harus meminta tolong pada siapa? ponsel dan dompetnya tertinggal di mobil Arsen. Sementara Apartemen suaminya saja dia tidak tahu di mana. Untuk beberapa saat pandangannya lurus ke depan, butiran bening itu kembali meluncur di iringi dengan isakan. Baru di awal pernikahan saja sudah seperti ini, bagaimana cara dengan hari-hari selanjutnya? Khalisa tidak bisa membayangkannya. Hari semakin sore, langkah kakinya sudah sangat lelah, entah arah mana yang akan dia lalui, kenapa dia baru tahu ada jalan sesepi ini. Khalisa duduk disisi jalan, dia melewatkan sholat dzuhur dan Ashar, sebab tidak ada tempat untuk dia melakukan kewajibannya itu. Terlebih bagian bawah gamisnya sudah kotor. Hari semakin gelap, rasa takut mulai menyeruak, bukan takut akan adanya hantu, tetapi dia takut jika ada orang jahat yang tiba-tiba lewat. Belum lenyap pikiran itu, tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang berhenti di depannya, di susul oleh seorang pria yang turun dari mobil itu menggunakan jas mahal mirip dengan milik Arsen. Pria itu berdiri di depannya. “Anda nona Khalisa?" Tanya pria tersebut, sesekali melihat kearah ponselnya, lalu mengangguk pelan. “Iya, saya Khalisa, Anda mengenalku, Pak?" Jawab Khalisa. Pak? Mata pria tersebut mendelik, apakah gadis di depannya ini bermata rabun sampai tidak bisa membedakan mana yang harus di panggil Bapak dan Mas? Pria tersebut menggeleng kecil, lalu kembali pada tujuannya. “Ternyata benar, Anda Nona Khalisa, istri ninja Tuan Arsen, ayo ikut saya Nona, saya akan mengantar Anda ke apartemen, Tuan." Dia bernama Galen itu, membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan Khalisa untuk masuk, namun Khalis masih diam di tempat, dia masih ragu, bagaimana kalau orang itu hanya pura-pura mengenal Arsen dan ternyata orang jahat. Galen berdecak. “Nona, jangan khawatir, saya adalah sahabat Tuan Arsen sekaligus Asistennya." Ujarnya memperkenalkan dirinya. “Benarkah, lalu bagaimana Anda bisa menemukan saya di sini?" Pernyataan Khalisa benar-benar sangat konyol, tentu saja Galen tahu. Galen mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan postingan Arsen, yang mengatakan peliharaannya hilang. Matanya membulat. “Peliharaan?" Gumamnya. Galen mengangguk merasa lucu, dia ingin tertawa dan juga mengutuk Arsen, bisa-bisa nya wanita bermata teduh ini di sebut peliharaan. Tidak ada pembahasan lagi, sehingga saat ini mobil mewah tersebut sudah memasuki gerbang tinggi di sebuah rumah mewah. Khalisa menautkan kedua alisnya, lalu menoleh penuh ke khawatiran. “Rumah siapa ini? bukanya Mas Arsen ada di apartemen?' Tanya nya dengan suara gemetar. Gelan menghela nafas pelan, dalam perjalanan tadi Arsen mengirimnya pesan untuk membawa Khalisa ke rumah barunya, sebab Apartemen nya akan di tempati oleh Alexia. “Ayo, turun Nona, Tuan Arsen sudah menunggu Anda di dalam." Galen keluar lebih dulu, membuka pintu untuk Khalisa. Bukannya bergerak, Khalisa malah terdiam, dia benar-benar takut. tatapan mata polos itu membuat Galen gemas, sialnya malah istri dari sahabatnya sendiri. “Ayo Nona." Khalisa mengangguk ragu, namun dia tetap mengikuti Galen. Ketika masuk, matanya langsung di suguhi dengan pemandangan yang membuatnya membeku dan segera menundukkan kepalanya. Di ruang tamu, Arsen sedang duduk memangku seorang wanita cantik dan tentunya sangat seksi, yang wajahnya begitu familiar. “Sayang, siapa dia?" Tanya wanita itu menunjuk menggunakan dagunya kearah Khalisa. Arsen melirik sekilas, tangan kekar itu memeluk pinggang ramping Alexia dengan posesif. seringai kecil yang teramat menyebalkan. “Dia adalah benalu di hubungan kita, Baby." Jawab Arsen dengan menekan kalimat benalu. Khalisa meremas kedua sisi gamisnya. Dia menarik nafas dalam-dalam, bukannya dia sudah bertekad untuk tidak mengangap semuanya, demi anak-anak panti. “Kenapa kau membawanya ke sini?" Tanya Alexia, dia cukup lama menatap Khalisa, meskipun penampilannya sederhana, namun dia memiliki keyakinan jika wanita itu sangat cantik. Lalu pandangannya beralih pada Galen. Tatapannya pun terlihat sangat tajam, seakan yang di lakukan sahabat kekasihnya itu adalah kesalahan besar. Galen menggaruk telengkuk nya yang tidak gatal. “Aku memang harus membawanya ke mari, jangan lupa, Nona Khalisa adalah wanita pilihan Tuan Adnan dan sahabat Nona Alana." “Memangnya kenapa kalau pilihan Tuan Adnan? aku tidak mau kalau.. " “Sudahlah Alexia, jangan bertingkah, mau bagaimana pun, Nona Khalisa wanita yang di nikahi secara Sah oleh kekasihmu." Sela Galen, jam kerja sudah habis dia kembali ke mode gacor. Gelan dari dulu memang tidak begitu menyukai Alexia, dia merasa wanita itu manipulatif dan terlalu banyak drama, sialnya Arsen sangat bucin. Wajah Alexia langsung cemberut, dia sama halnya, tidak Menyukai Galen, yang menurutnya akan menjadi ancaman untuknya. “Antar dia ke kamar, biarkan dia istirahat untuk malam ini, karena besok permainan akan kita mulai." Arsen meminta maid untuk mengantar Khalisa ke kamar. Membiarkan wanita itu istirahat sejenak sebelum permainan benar-benar di mulai. Maid mengangguk pelan. “Mari Nyonya." “Eh.. Wanita tua, barusan kau memanggilnya apa?" Suara Alexia melengking tidak Terima jika Maid memanggil Khalisa nyonya. Maid itu menundukkan kepalanya. “Maafkan saya Nyonya Alexia. saya tidak akan mengulanginya." Alexia turun dari pangkuan Arsen, dia berdiri dengan angkuh dan melipat kedua tangannya di atas d**a. “Tidak ada Nyonya lain di rumah ini selain aku. Dan untuk benalu sialan itu tidak ada bedanya dengan kalian." Para maid mengangguk, Sedangkan Khalisa hanya menggelengkan kepalanya, sembari tersenyum tipis di balik cadarnya. dia juga tidak butuh gelar Nyonya. Khalisa segera mengikuti maid tersebut, sebab dia harus melakukan kewajibannya yang tertawakan. Arsen menaikan sebelah alisnya, Khalisa tidak protes layaknya wanita pada umumnya, meskipun menikah tanpa cinta, seharusnya marah atau menegur jika melihat suaminya bersama wanita lain. Namun istrinya itu hanya diam, apakah karena uang sampai tidak memperdulikan semuanya? baiklah Arsen akan tunjukkan pada Khalisa dan sampai kapan akan terus bertahan. “Pulang lah, sudah malam, besok kamu bisa kembali lagi." Titah Arsen pada kekasihnya. Alexia memasang wajah cemberut, “Bolehkah aku menginap? aku khawatir kamu akan melakukan sesuatu dengan wanita itu." Arsen tersenyum, dia sangat menyukai Keposesifan kekasihnya, “Aku sudah berjanji padamu, tidak akan menyentuhnya., percaya padaku." “Tapi.. " “Galen akan mengantarkanmu." Sela Arsen. Galen yang memejamkan matanya seketika melolot. “Aku sudah ada janji dengan kekasihku, pulang saja naik taksi. " Tolaknya, sungguh tidak sudi mobilnya di tumpangi oleh wanita seperti Alexia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN