Angkot mulai bergerak perlahan meninggalkan halaman rumah besar bercat krem itu. Tak lama kemudian, gerimis pun turun. Nawang duduk di dekat jendela, menatap ke luar tanpa benar-benar melihat apa pun. Hatinya masih gelisah, memikirkan tatapan aneh Pak Gatot dan Bu Dewi. Baru saja ia ingin bersandar, ponselnya bergetar di dalam tas. Nama “Bik Fatimah” muncul di layar. “Assalamualaikum, Bik,” sapa Nawang begitu sambungan tersambung. “Waalaikumsalam, Neng. Bibik mau ngomong sesuatu. Tadi Bibik nggak leluasa bicara karena ada Pak Gatot dan Dewi,” suara Bik Fatimah terdengar tergesa. “Ada apa, Bik?” “Neng Nawang jangan sembarangan menjual perhiasan-perhiasan itu. Semuanya berlian asli, kualitasnya bagus sekali. Bibik tahu karena dulu pernah mendengar Bapak mengatakannya pada Bu Laily.” Na

