16. Simalakama.

1723 Kata

Pagi itu udara masih lembap setelah hujan semalam. Sinar matahari memantul dari genting basah, menembus jendela kecil dapur yang terbuka separuh. Nawang sedang menyapu lantai ruang tengah, sesekali berhenti karena bekas infus di pergelangan tangannya masih terasa nyeri. Ia baru keluar dari rumah sakit kemarin, tapi tak betah hanya duduk diam. Bi Laila sudah berpesan tegas sejak subuh bahwa ia sebaiknya beristirahat di rumah saja. Tidak usah ke pasar dan ke kampus. Dan seperti biasa ia pun menurutinya. Suara langkah berat di depan rumah memecah kesunyian. Paman Jalal muncul dengan wajah kecut, menenteng karung kosong di satu tangan. Aroma amis dari sisa ayam potong menempel di bajunya. “Lho, kamu masih di rumah?” sergahnya begitu masuk, alisnya bertaut tajam. “Orang lain bekerja banting

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN