20. Alhamdullilah.

1880 Kata

Keesokan paginya, matahari baru naik ketika Bi Laila, Paman Jalal, dan Nawang sudah berdiri di depan bank tempat mereka pernah mengajukan pinjaman. Hari itu adalah hari yang menentukan: hari pelunasan. Bi Laila menggenggam tasnya erat, sementara Paman Jalal tampak cemberut sejak keluar rumah. “Nanti kamu setor dulu uang dari Tante Christy ke rekening Bibi. Setelah uangnya masuk, baru pelunasan bisa diproses, kata Pak Harry,” ujar Bi Laila pada Nawang. “Iya, Bi. Nanti sesampai di bank, saya akan langsung setor.” Nawang mengangguk. Ia mengikuti sandiwara Bi Laila. Menurut bibinya, hal ini perlu dilakukan—agar Paman Jalal yakin uangnya memang berasal dari Christy, bukan dari hasil menjual perhiasan. “Kenapa si Christy itu transfernya ke rekening Nawang sih, La? Bukan langsung ke rekeningm

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN