Bab 7. Terjadi lagi

1131 Kata
Tiba di malam hari setelah selesai kerja, Dinda bersama teman-temannya berniat merayakan perayaan mereka di sebuah club malam, hanya untuk minum-minum dan menari sedikit kemudian pulang. "Harus banget ya di sini?!"' Dinda sebenarnya keberatan, ia tidak pernah menginjakan kaki di tempat seperti ini sebelumnya. "Gapapa ya, cuman sebentar aja, ko!" teman kerja Dinda meyakinkan. Sementara Nindi dan yang lainnya sudah masuk lebih dulu. "Janji, ya. Cuman sebentar aja!" "Siap ketua!" Dinda dan temannya masuk ke dalam. Hingar bingar dan bau alkohol menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya. Di tambah dengan dentuman yang seakan menekan jantungnya. Dinda risih, tidak nyaman. Sementara semua teman-temanya sudah ikut bergabung dengan mereka yang sedang menari dan minum. Tak lama tiga orang pria mabuk mendekati Dinda. "Sedang apa di sini cantik? Ko diem aja? Ayo temani om minum!" Dinda histeris saat salah satu dari mereka memegang tangannya. "Lepas! Jangan macem-macem ya, klo ngga saya akan teriak sekarang." Ketiga pria tadi tertawa terbahak-bahak, semakin membuat Dinda takut. Ia melihat ke arah teman-temannya. Tapi tidak terlihat, sepertinya mereka berada jauh di depan. "Teriak lah sekuat tenagamu, Sayang. Karena tidak akan ada yang peduli padamu di sini. Lagipula, untuk apa kamu ke sini jika bukan untuk bersenang-senang, kan? Ayolah, om akan kasih kamu uang nanti." "Ngga! Pergi! Tolong jangan ganggu aku hiks!" Tak lama, ketiga pria yang berebut mencium Dinda tumbang, di hantam oleh seseorang dari belakang. "Tuan Lucian?" Dinda lari, menghampiri dan memeluk pria itu. "Tuan tolong aku hiks, aku ngga mau melayani mereka." Tangan besar Lucian mengepal, sorot matanya tajam meski terlihat sedkit kelimpungan. Dengan badan yang sedikit sempoyongan, Lucian memberi mereka pelajaran, tanpa ampun. Lucian kemudian ambruk setelah ketiga pria itu juga ambruk. "Tuan kamu kenapa? Siapapun tolong aku hiks!" Dinda mencoba menyadarkan Lucian. "Dinda, tolong saya! Rasanya panas sekali!" Tak lama Sekertaris Roy tiba, mengecek kondisi tuannya. "Nona, sepertinya ada yang memberi obat pada Tuan muda. Bisakah anda menolongnya demi keselamatannya?!" Dinda terdiam bingung, ia dan Lucian baru saja menyelesaikan perkara mereka. Haruskah hal ini terjadi lagi? Dan ya, Dinda tidak ingin membuat hubungan Tuan Lucian dan Nona Bella semakin runyam. "Dinda, tolong saya!" kata Lucian terlihat begitu tidak nyaman. Baiklah! Untuk terakhir kalinya. "Baiklah Sekertaris Roy. Bisakah saya meminta satu kamar di sini?!" "Dengan senang hati, Nona!" Dinda dan Sekertaris Roy membopong Lucian ke kamar VIP. "Semoga membuahkan hasil, Nona!" bisik Sekertaris Roy. "Kamu!" Sekertaris Roy hanya tersenyum kemudian menutup pintu dan berdiri menjaga di sana. Ia meraih ponselnya. "Geledah seluruh tempat! Cari tahu, manusia mana yang berani menuangkan obat pada Tuan muda." "Siap, Tuan!" Di kamar VIP. "Arghhh panas!" Lucian terus meraung kepanasan. Dinda meneguk saliva kuat, ragu. Tapi kemudian yakin untuk menolongnya. "Baiklah, karena kamu selalu menolongku, hari ini aku yang akan menolongmu!" Dinda menutup mata Lucian dengan syalnya, kemudian membuka sendiri seluruh bajunya dan mencium bibir Lucian. Terasa begitu menggelora, Dinda berusaha mengimbangi gerakan Lucian yang cukup gila. "Jangan!" Dinda menghentikan tangan Lucian yang ingin membuka syalnya. "Biarkan seperti ini, ya!" pinta Dinda sembari mencium bibir Lucian, membujuk. Jujur Dinda malu sekaligus sungkan. Ia juga tidak mau jika Lucian tahu jika ia tidur lagi bersamanya. Lucian mabuk, jadi dia tidak akan sadar, kan? Tak menjawab, Lucian hanya membalas ciuman Dinda, dan kembali memulai gerakan dengan lebih gila. Cukup lama dan cukup melelahkan Dinda melayani Lucian, akhirnya pria itu tumbang setelah lima jam permainan. Dinda terkulai lemas, begitu juga dengan Lucian. "Ah sakit sekali!" Tulang-tulang Dinda rasanya mau patah, kaki-kakinya juga susah digerakan. Tapi tidak ingin menghilangkan kesempatan, melihat Lucian yang tertidur ia segera memakai kembali bajunya, masuk ke kamar mandi sebentar kemudian pergi dari sana. "Nona, anda mau ke mana?" Bukannya menjawab, Dinda malah balik bertanya. "Sekertaris Roy, kamu masih di sini sejak kami masuk?!" bertanya dengan nada tak menyangka. "Betul, Nona." Astaga-naga! Patuh sekali ya bawahan pria itu. Ya sudahlah itu urusan mereka. "Sekertaris Roy, saya mau pulang! Tolong jangan bilang kalau yang membantu dia itu saya ya!" Lagi, Sekertaris Roy hanya tersenyum kemudian menyuruh tangan kanannya mengantar Dinda. Sedang dia menunggu dan menjaga Lucian hingga pria itu sadar. Tiba di rumah, Dinda mendapati Pratama sudah ada di sana. "Pria itu lagi...." Dinda mendengus. Tidak ingin menemui pria b******k tersebut, Dinda hendak masuk lewat pintu belakang. Namun sial, pria itu melihatnya. "Dinda, akhirnya kamu pulang juga," katanya kemudian lari dan menghampiri Dinda. "Darimana saja kamu?!" sergah Pratama dengan nada tinggi. Jika dulu Dinda selalu takut jika Pratama marah, bukan karena takut. Tapi karena tidak ingin membuat pria itu khawatir. Tapi kini tidak lagi, Ia bahkan sudah tidak peduli sama sekali dengannya. "Bukan urusanmu!" Menyingkirkan tangan Pratama dengan kasar. "Dinda kamu...." Sedikit terkejut dengan sikap Dinda, Pratama terdiam. "Kenapa? Ingat, aku bukan Dinda yang kamu kenal lagi. Dinda yang dulu selalu mencintaimu sudah pergi. Sekarang, hanya ada Dinda yang kuat dan tidak mengenalmu lagi. Lepas!" "Dinda, tapi mami menolak Gracia dan meminta aku membujuk mu!" Sedikit tersentak ketika mendengar kata mami, Dinda akhirnya memutuskan tetap pergi. "Itu urusanmu! Bukan aku!" Pergi dan menutup pintu dengan kasar. Sebenarnya Dinda ingin sekali menemui Nyonya Pratama, hanya untuk sekedar meminta maaf atau bertegur sapa. Wanita itu memang baik, bahkan sangat baik dibandingkan dengan ayah kandungnya sendiri. Tapi perbuatan Pratama tidak bisa ia tolelir. Meski Dinda sendiri bukan orang suci, tapi Dinda tidak ingin hidup dengan pria yang sudah selingkuh, apalagi dengan adik tirinya sendiri. Ya, meski Dinda sangat membenci dia, tapi Dinda tidak sebangsat itu sampai menjadi penghambat Pratama tanggung jawab pada adiknya. Keesokan harinya. Lucian bangun dengan tubuh yang lebih segar, Sekretaris Roy yang semalam berjaga sudah menyiapkan segalanya. Setelah Lucian mandi dan sarapan, barulah mereka bicara. "Sejak kapan dia pergi?!" "Sejak anda tertidur, Tuan." Sekretaris Roy menuangkan air. Sementara Lucian hanya diam. Sepertinya, dia ingin main sembunyi denganku! "Ada lagi yang dia katakan?" "Nona bilang, jangan sampai anda tahu jika orang yang telah menolongnya adalah dia," ucap Sekretaris Roy. Lucian berdecih Gadis bodoh! Dia pikir dirinya tua bangka dan pikun. Dia tentu saja ingat siapa yang telah dia tolong dari sampah klub itu. Dan ya, Lucian juga hafal betul bagaimana wangi dan bentuk tubuh wanita itu. Cm demi cm nya. "Ada lagi?!" "Tidak ada, Tuan." Sekertaris Roy membantu Lucian memakai jasnya. "Bagus! Ayo kita beri hukuman pada gadis sok pintar itu!" "Tapi, Tuan." "Ada apa?!" "Orang yang memberi obat padamu itu adalah Nona Bella, dia membayar orang untuk melakukannya agar bisa tidur denganmu." "Aku tahu!" jawab Lucian dengan enteng, "Kita akan urus wanita itu nanti." "Siap, Tuan." Kedua orang paling berpengaruh di negeri itu pergi keluar, meninggalkan tempat ketiga yang menjadi saksi hubungan Lucian dan Dinda. Masuk ke dalam mobil dan melaju kencang. Membelah keramaian menuju perusahaan. Tiba di perusahaan, Lucian melihat ibunya bersama dengan Bella. Sedang menghardik seorang wanita yang seperti kenal bentuk tubuhnya. Sesaat wanita itu berbalik saat ibunya menariknya. "Dinda!" teriak Lucian kemudian lari menabrak semua orang untuk menggapainya. Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN