Bukannya menjawab, Lucian malah balik bertanya. Sontak hal itu membuat bibir Dinda senyum merekah, ia mendekati suaminya. "Tidak! Padahal aku baru saja berpikir, apa saja ya yang bisa kulakukan jika suamiku tidak ikut. Mendekati adikmu, atau cari bule saja, ya!" "Jangan mimpi, aku tidak akan membiarkanmu lepas dariku meski sejengkal!" Terdengar sangat mengancam, tapi justru membuat Dinda bahagia. Karena itu artinya, Lucian mengirim dia itu untuk melihat adiknya. Bukan serta merta mengusirnya. Tersenyum saja selama perjalanan, ekspresi Dinda cukup membuat Lucian emosi. "Kamu begitu bahagia ingin bertemu adikku? Ck!" "Tentu saja. Karena sebentar lagi, aku akan mengunjungi adikku tersayang." Baru saja hendak murka, ucapan Dinda selanjutnya cukup membuat Lucian diam. "Setelah itu, aku

