Lima menit sebelumnya. Setelah kepergian Sekertaris Roy dan Daren Lucian sudah menyergap, memeluk Dinda dengan erat. Namun sial, baru saja hendak mencium bibir wanita itu, ponselnya berbunyi. Dinda terdiam sebentar, "Ada apa, hm?!" tanya Lucian. Segera beranjak, Dinda sedikit menjauh. "Sayang, aku mau pipis, tunggu sebentar, ya!" Langsung berbalik, Lucian menatap kepergian Dinda dengan hati penuh cinta. "Apa yang kamu inginkan?!" gertak Dinda saat dia sudah tiba di toilet. Yang di seberang malah tertawa, "Tenanglah, Sayang! Asal kamu patuh, aku tidak akan melukainya sedikitpun." "Kamu gila, ya. Dia suamimu!" "Persetan dengan suami, dia lebih milih menyenangkan orang lain daripada istrinya sendiri asal kamu tahu!" "Tapi apa yang kamu lakukan ini memang tidak benar, Nyonya. Tentu s

