“Kita sudah sampai, Bun. Ayo, turun.” Ajak Tia setibanya di dinas sosial. Setelah mendapatkan informasi keberadaan Nela dari dinas sosial, Tia dan bunda segera menuju rumah sakit jiwa tempat Nela di rawat. Kaki bunda dan Tia berhenti melangkah melihat Nela duduk di kursi putih yang terbuat dari kayu. “Bunda?” sapa Nela semringah melihat kehadiran bunda dan Tia. Bergegas ia mendekat. “Ne-Nela?” jawab bunda tergagap. Ia panik, tidak menyangka Nela akan mengenalinya. “Bunda apa kabar?” sapa Nela ramah. “Ayo, silahkan duduk.” Ujar Nela menarik tangan Bunda ke kursi Panjang. Awalnya bunda ragu untuk melangkah, tapi karena ia melihat Nela baik-baik saja, bunda mengikutinya. Tia waspada penuh. Walau menurut keterangan zuster jaga di sana Nela tidak berbahaya, tetap saya ia khawatir. Ia me

