Kondisi Kakek Sastro bukannya membaik, justru semakin melemah dari hari ke hari. Tubuh renta itu kini lebih sering terbaring dengan selang oksigen membantu pernapasannya. Wajahnya pucat, matanya cekung, namun sorotnya masih menyimpan satu keinginan yang tak pernah benar-benar beliau lepaskan yaitu melihat cucu kesayangannya menikah. Aksa tidak bisa lagi menunda. Setiap kali ia berdiri di samping ranjang rumah sakit, menggenggam tangan kakeknya yang mulai dingin, dadanya terasa diremas. Lelaki yang selama ini menjadi pelindungnya, penopang hidupnya, kini terlihat begitu rapuh. Tidak ada lagi ruang untuk ragu. “Dokter bilang kondisi kakek kamu tidak stabil,” ujar Anindya dengan suara tertahan saat mereka berkumpul di ruang tunggu. “Kalau mau melakukan sesuatu … lakukan sekarang.” "Iya, M

