47. Wawancara Orang Tua

1602 Kata

“Masih inget kalau punya orang tua, De?” Baru juga aku ganti sepatu dengan sandal rumahan, Ayah sudah langsung berkomentar. Begitu aku menoleh, Ayah sedang membawa secangkir kopi dari dapur. Aku memang masuk lewat pintu samping dekat garasi. Hari ini aku memutuskan pulang ke rumah orang tua. Selain karena sudah lama tak pulang, juga agar aku tak kepikiran Yuna terus menerus. Serius! Jika sedang sendiri, otakku terus kotor. Kedatangan Fajar sama sekali tak membantu. Jadi, pulang ke rumah orang tua menjadi solusi yang semoga saja tepat. “Lagi sibuk terus, Yah. Habis beresin izin final yang di Nusa Penida.” “Setelah Nusa Penida, besok mana lagi?” “Lombok dikit lagi, Raja Ampat masih proses awal. Masih jauhlah, katakan.” “Terus?” “Rencana Banda Neira. Cuma yang ini belum fix karena di

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN