20. Menginap Bersama

1903 Kata

“Mama, bangun, Mamaaa! Mama, banguuuun!” Suara itu membuat tidurku terusik. Padahal aku masih sangat mengatuk, tetapi mau tak mau harus membuka mata. Terlebih, semakin lama panggilan itu semakin intens. “Mama, bangun, Mama! Mamaaa! Mama! Mamaaa!” Kini mataku langsung terbuka lebar begitu melihat Fafa sudah duduk di depanku. “Fafa! Kamu udah boleh pulang, sayang? Kapan?” “Udah, Mama! Tadi. Dokter bilang boleh pulang. Terus aku dikasih permen.” “Permen apa?” “Udah dimakan di mobil.” Aku segera membawa Fafa ke pelukan dan anak itu juga memelukku. Kuciumi kepalanya sampai berkali-kali. Aku selalu suka aroma anakku. Mau dia belum mandi atau sudah, pokoknya suka saja. “Fafa udah boleh pulang, enggak ada masalah lanjutan. Kemarin dia demam aja dan udah mendingan. Yang penting, jaga aktiv

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN