14. Ledekan Fafa

1701 Kata

“Makasih banyak, Na, udah bolehin Fafa manggil aku Papa.” Mas Dewa berujar sungguh-sungguh, membuatku hanya bisa mengangguk. Aku tidak ingin merusak suasana, jadi kuiyakan saja. Sudah bagus dia langsung ‘sehat’ setelah tahu aku membolehkan Fafa memanggilnya Papa. Aku tidak mau kalau dia tumbang lagi dan hanya membuat Fafa khawatir berlebihan. Kalau Fafa khawatir, aku juga yang repot. Ngomong-ngomong, saat ini kami sedang duduk berdua di teras belakang yang tak seberapa lebar. Hanya ada ada jemuran mini, kolam ikan kecil, dan pohon hias milik penyewa sebelumnya. Aku tahu tentang ini karena pemilik rumah bilang kalau pohon itu akan diambil sewaktu-waktu. Memang, rumah ini masih ngontrak. Aku belum punya uang untuk beli. Lagi pula, ngontrak juga bukan pilihan yang jelek. Aku malah bisa sa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN