DUA

1004 Kata
Calista adalah seorang anak rantau dari sejak empat tahun lalu. Ia melamar kerja di pabrik tempat kerjanya dulu dan bekerja selama satu tahun lebih lalu akhirnya memutuskan untuk ambil kuliah kelas karyawan. Ia tidak mungkin seumur hidup akan menjadi pekerja pabrik, setidaknya jika ia punya gelar pekerjaan bagus lainnya bisa menjadi miliknya. Dan sebentar lagi Calista akan menyelesaikan studinya. Selama merantau ia tidak pernah pulang, setiap ada libur akhir tahun ia selalu memilih untuk liburan ketempat lain atau hanya sekedar jalan-jalan. Calista benci dengan keluarganya, ia tidak mau kembali merasakan perasaan memuakkan saat pulang kerumah. Dan selama ia mengurusi Axton, ia lebih memilih untuk terus berada dirumah majikannya itu menjaga Axton daripada pergi berlibur. Selain tidak punya tujuan khusus, Calista juga senang mendapatkan bonus lebih banyak diakhir tahun. "Lis, Ibu minta tolong ya. Ibu dan Bapak akan menginap di Surabaya selama tiga hari." Calista mengangguk, mengiyakan permintaan Nyonya Anggita. Besok ia dan Axton akan pergi mendaftar sekolah ke salah satu taman kanak-kanak yang sudah direkomendasikan oleh Nyonya Anggita yang tidak bisa ikut karena ada perjalanan bisnis dan berangkat malam ini. "Iya bu, hati-hati dijalan. Semoga sampai tujuan dengan selamat." "Terimakasih. Kalau begitu, saya tinggal dulu ya." Anggita pergi dari ruang makan meninggalkan Calista dan beberapa asisten rumah tangga yang sedang membereskan dapur juga meja makan usai waktu makan malam. "Lis, besok mbok dan Rina sekalian ikut ya. Berhenti sampai pertigaan saja." "Iya Mbok, besok berangkat jam 8 pagi ya." Mbok Sum mengangkat jempolnya pertanda setuju, sedangkan Calista harus kembali ke kamar Axton untuk memeriksa anak itu. Calista mengetuk pintu kamar dua kali sebelum akhirnya masuk. Matanya menangkap Axton yang saat ini sedang bermain Lego. Langkahnya mendekat dan mengusap kepala Axton yang begitu serius menyusun legonya. "Oma dan Opa berangkat malam ini ke Surabaya. Axton harus mengantar sampai depan rumah ya." "Iya." Axton mengangguk, lalu wajahnya menengadah menatap Calista. "X boleh minta mainan?" "Jika nanti Oma dan Opa tanya, maka boleh. Tapi jika tidak jangan memaksa ya." "Okay Mimi. Mimi sudah makan belum?" Calista menggelengkan kepalanya.  "Mimi makan nanti setelah X tidur, sekarang lanjutkan dulu main legonya." Dengan patuh Axton kembali fokus pada mainannya. Sedangkan Calista mengambil handphone dan melihat-lihat sosial media. Enaknya jadi pengasuh yang anaknya tidak rewel tuh begini, Calista selalu bisa santai dan punya banyak waktu senggang meskipun harus menjaga Axton. Satu chat masuk dari Rina, memberitahu dirinya bahwa Nyonya dan Tuan Besar sudah mau berangkat. "Ayo kedepan X, Oma dan Opa mau berangkat sekarang." Mereka bergandengan tangan keluar kamar dan mengantar kepergian Nyonya dan Tuan Besar. Axton diberi pelukan dan ciuman sayang dari Oma Opa-nya. Anak kecil itu begitu menggemaskan dan patuh sekali, membuat Calista senang tetapi merasa takut secara bersamaan. Ia takut melihat Axton yang begitu patuh dan tidak banyak meminta seperti diajarkannya malah menjadi bumerang sendiri. Bisa saja tanpa Calista tahu Axton memendam sebuah perasaan yang membuat anak itu tidak banyak menuntut. "X, ayo masuk kedalam. Biar Mimi gendong." Selama perjalanan ke kamar, Calista terus mengusap rambut X. Tak ada suara atau obrolan yang terjadi diantara mereka, setiap Nyonya dan Tuan Besar pergi dengan alasan perjalanan bisnis maka mood X pasti akan turun. Seperti sekarang. "Sudah sayang, disini kan ada Mimi."  Meskipun tidak pernah anak itu bicara secara langsung apa yang dirasakannya, tetapi Calista selalu berusaha untuk menenangkannya. Pasti selalu ada pikiran diotak kecil X tentang orangtuanya yang tak pernah ditemui atau kakek neneknya yang ia punya selalu tidak ada waktu banyak untuknya. Anak ini pasti merasa kesepian dan sedih. "Mimi jangan pergi juga ya. X tidak mau sendirian." Berusaha menahan turun air matanya, Calista mencoba memberikan senyum hangat untuk X yang kini sudah ia dudukkan diatas tempat tidur. Ia duduk disisi X seperti tiap kali ia akan menyanyikan lagu tidur untuk anak itu, tangannya membelai wajah tampan X. "Mimi selalu disini bersama X. X gak akan pernah sendirian." "Janji?" Jari kelingking kecil itu terulur meminta janjinya. Calista cukup bimbang, bisa saja ia asal mengiyakan anak ini agar tidak sedih lagi tapi janji tetaplah terhitung janji tidak bisa sembarang diberikan jika tidak mampu memenuhinya. Tidak selamanya Calista akan bekerja dirumah ini sebagai pengasuh X. Ia punya rencana hidupnya sendiri dengan mencari kerja setelah lulus sarjana lalu mengadopsi anak. Ujungnya akan sama saja, X merasa kecewa padanya. Jika ia tidak mengiyakan anak itu pasti makin sedih, tapi jika ia mengiyakan lalu tidak menepati janjinya anak ini akan sama kecewanya. "Kenapa harus berjanji? Lagipula Mimi tidak punya rumah selain rumah X. Mimi juga tidak punya orang yang disayang selain X." "Berjanji itu mudah, tetapi menepati janji itu sulit. Mimi tidak mau membuat X kecewa dan menangis karena Mimi tidak menepati janji." "X hanya ingin Mimi disini, selamanya bersama X." Jika saja bisa begitu maka Calista akan mengiyakannya. Ia bahkan berharap sekali bisa mengadopsi X saja lalu pergi dari rumah ini, menjadi dua orang keluarga yang saling menyayangi. Tetapi tentu saja itu tidak akan pernah bisa terjadi. X punya keluarga, keluarga kaya yang sangat bisa mencukupi anak itu. Dibandingkan hidup dengannya tentu kehidupan dikeluarga Davies seribu kali lebih menjanjikan. Kedua tangan Calista menangkup wajah mungil X yang matanya kini berkaca-kaca. "Mimi akan terus disini sampai X bosan dan tidak mau bermain dengan Mimi lagi." Kepala kecil itu menggeleng, menolak ucapan Calista. "X tidak akan pernah bosan dengan Mimi. Karena X sayang Mimi." Sungguh Calista tidak bisa lagi menahan air matanya, ia pun memeluk tubuh kecil yang juga membalas pelukannya begitu erat. Ya ampun mengapa rasanya begitu menyesakkan hanya karena ia menyayangi anak asuhnya. Ini lebih menyedihkan dari scene sedih dunia percintaan meskipun memiliki persamaan, sama-sama tidak bisa memiliki. "Mimi juga sayang sekali dengan X." "Mimi, are you crying?" "No. Tadi Mimi kelilipan." Calista berusaha menghapus air matanya, tetapi tangan mungil X menggantikannya lebih dulu. "Don't, don't cry because of me Mimi. Mimi tidak cantik lagi jika menangis." Itu adalah kata andalan Calista jika membujuk X supaya berhenti menangis, sekarang anak ini sudah begitu pintar membalik omongan orang membuat Calista terkekeh pelan diantara rasa haru dan sedihnya untuk X. "Memangnya Mimi cantik?" "Tidak ada yang lebih cantik dari Mimi." Vote and Comment guys!!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN