"Mas, kok dari tadi aku disuruh revisi terus. Kalau seperti ini kapan skripsi ku selesai?" tanya Jihan yang protes. Karena dari tadi Qidam dengan seenaknya saja mencoret apa yang tertulis di skripsinya. Sambil menyilang kan kakinya, Qidam mengetuk kepala istrinya dengan menggunakan pulpen, yang ada di tangan pria itu. "Kalau skripsi mu sudah benar, tidak mungkin aku mencoretnya, Jihan. Lagi pula aku ingin bersikap profesional. Agar kamu tidak membuatnya secara asal-asalan. Karena aku tidak ingin mahasiswa lain mengira, mentang-mentang kamu istriku, aku memberikan kelonggaran," jelas Qidam, supaya wanita itu mau mengerti. Mendengar suaminya yang dari tadi ceramah panjang lebar, Jihan pun menggerutu di belakang tanpa sepengetahuan pria itu. "Makanya, Mas. Bantu dong bikinin aku skripsi y

