Pagi itu cahaya matahari menyusup pelan melalui tirai kamar, menembus udara hangat yang baru saja mengisi rumah kecil mereka. Gladis membuka mata perlahan, masih merasakan tubuhnya sedikit pegal dari malam sebelumnya, tapi hatinya dipenuhi rasa bahagia. Harsha sudah bangun lebih dulu, terbaring di kasur bayi dengan mata menganga, memandangi cahaya yang masuk. Gladis mengangkat tubuhnya dengan hati-hati, menatap bayi mungil itu. “Hai, Nak… selamat pagi,” bisiknya lembut. Tangannya menyentuh pipi Harsha, dan bayi itu merespon dengan gerakan kecil, jari-jarinya menggenggam ujung jari Gladis seakan ingin menahan sentuhan itu lebih lama. Alfito muncul dari dapur dengan secangkir kopi panas, rambutnya sedikit acak-acakan, tapi matanya bersinar penuh cinta. “Kamu bangun lebih awal, sayang. Dan

