Ponsel Yuna berdering terus menerus, ia yang baru saja keluar dari kamar mandi menoleh ke arah kasur. Ia berjalan dan meraih ponselnya yang tergeletak begitu saja.
Keningnya mengernyit saat melihat Farhan yang berkali-kali menghubunginya. "Tumben, ada apa ya?"
Yuna segera menggeser tombol hijau yang ada di layar ponselnya, dan meletakkan di telinganya.
"Halo Han kenapa?"
(Yun, kamu tahu ada Renan?)
Deg
Degup jantung Yuna kembali tidak beraturan, mendengar nama Renan, adegan itu kembali berputar di ingatannya.
(Yun, kenapa kamu diem? Kamu ketemu sama dia?)
"Hah, oh itu..."
(Dia kayanya nyariin kamu, kamu gak apa-apa kan semalam?)
Di balik telpon Yuna memijit pelipisnya yang mendadak sakit. Kenapa Farhan bisa bertanya seperti itu?
"G-gak kok, aku gak ngapa-ngapain. Kamu jangan bilang aku kerja di sana ya Han," pinta Yuna di balik telpon.
(Ok, siap. Aku gak akan bilang kamu kerja di sini. Tapi kamu bener kan baik-baik aja?).
"Iya Han, aku baik-baik aja kok makasih ya. Aku tutup dulu."
(Ok, kalau ada apa-apa kasih tau aku).
"Ok, Han."
Yuna segera menutup ponselnya, ia duduk di tepi ranjang sambil menarik napas dalam-dalam. Ia melihat tubuhnya yang baru saja di sentuh oleh mantan suamianya.
"Sialan kenapa dia tambah menggoda saja!" cibir Yuna sambil menepuk-nepuk kepalanya.
Yuna bergegas mamakai pakaiannya. Ia melihat dapur mini miliknya— tidak ada makanan sama sekali. Yuna hanya bisa menghelakan napasnya panjang. Malas sekali rasanya jika dia harus membeli makanan keluar.
Langkah Yuna berjalan mendekati lemari dan juga kulkas berharap di sana ada mie instan atau yang lainnya. Namun, sayang ternyata tidak terdapat apa pun.
Yuna menghela napasnya kasar, mau tidak mau dia harus berjalan keluar untuk mencari makanan. "Ish, bisa-bisanya sampai gak ada apa-apa," gerutunya.
Tidak mau berlama-lama, Yuna segera mengambil sweaternya yang berwarna kopi s**u. Memakai sendal berwarna hitam, ia segera melangkahkan kakinya keluar untuk mencari makan.
Matanya mengitari jalan di area kosannya. Perutnya lapar, tetapi dia bingung harus makan apa?
Akhirnya kaki Yuna melangkah menuju penjual nasi uduk. Selain murah, porsinya juga cukup banyak, cukup untuk mengisi perutnya bertahan sampai sore.
"Bu, nasi uduknya satu bungkus."
"Siap neng."
Yuna duduk di kursi yang di sediakan oleh si penjual. Menghela napas seolah hidupnya benar-benar sangat berat. Ah bukan itu yang membuat hidupnya terasa berat, tapi Renan—mantan suaminya.
"Kenapa dia harus dateng lagi?" gumamnya.
"Neng, neng ini pesenannya," ucap si penjual sambil melambaikan tangannya di depan wajah Yuna yang sedang melamun.
Mata Yuna segera mengerjap, ia langsung menoleh ke arah ibu tersebut. "Eh iya makasih bu. Ini uangnya." Yuna segera memberikan selembar uang pada ibu tersebut.
"Makasih ya neng, jangan melamun terus," peringat ibu penjual nasi uduk yang sudah cukup mengenal Yuna.
Yuna hanya tersenyum malu mendengarnya dan segera bergegas pergi dari sana. "Gara-gara si Renan!"
---
"Lu kenapa?" tanya Tama. "Dari tadi bengong aja, mikirin apa sih? Cewek kah?" sambungnya dengan raut wajah penasaran.
Renan menganggukkan kepalanya pelan. Melihat jawaban Renan, tentu saja membuat Tama terkejut. Setelah sekian lama akhirnya Renan memikirkan seorang wanita, siapa yang bisa membuat Renan seperti ini selain mantan istrinya.
Tama mencondongkan tubuhnya ke depan, lebih mendekat. "Lu serius mikirin cewe? Siapa cewenya yang udah bikin lu kaya begitu?" tanya Tama tidak sabar mendengarkan jawaban Renan lebih lanjut.
Renan menoleh ke arah Tama, ia segera menegakkan tubuhnya. Dan ikut mendekat, ke dua sikunya bertumpu di atah meja kerjanya.
"Yuna," jawabnya dengan suara yang pelan.
BRAK!
Tama spontan langsung menggebrak meja. Padahal dia sudah sangat antusias dengan jawaban Renan. Tapi nama itu lagi yang keluar dari mulut sahabatnya.
Renan tersenyum miring, melihat ekspresi sahabatnya. "Gua kira siapa, ternyata almarhum istri lu!"
"Dia masih hidup Tam," sela Renan.
Tama menaikkan sebelah alisnya, sebenarnya tidak heran dengan ucapan Renan. Karena sejak dulu hingga sekarang Renan belum percaya kalau istrinya meninggal.
"Lu mau sampai kapan sih ka—"
"Gua tidur sama dia semalem."
Tama ternganga mendengarnya. Bukan berarti dia percaya dengan ucapan Renan. Justru dia khawatir dengan kondisi sahabatnya yang seperti ini. Sampai Tama menyangka kalau Renan sudah tidak waras.
"Lu mending ke psikiater deh Ren, sebelum lu mendadak jadi ODGJ" saran Tama.
Renan mendengus kesal, "Gua serius Tam, gua gak bohong. Gua gak gila," elaknya.
"Ada buktinya?" tanya Tama, dengan wajah menantang.
Tubuh Renan kembali maju mendekat. "Ada, hotel kemarin yang kita datangi. Dia kerja di sana, gua mau ke sana lagi buat cari dia," ucap Renan.
Tama memicingkan matanya. Walaupun tidak percaya, tapi Tama ingin membuktikan ucapan sahabatnya itu.
"Ok, gua ikut sama lu nanti. Gua mau buktiin ucapan lu bener apa gak!"
"Ok, lu nanti ikut!"
---
Yuna memutuskan untuk kembali ke hotel tempat dia bekerja. Dengan memakai pakaian rapih serta membawa amplop besar berwarna coklat. Yuna menghela napasnya kasar, ia menatap gedung mewah tempat di mana dia bekerja.
Perasaannya saat ini benar-benar campur anduk, sedih, galau, takut semua dapat Yuna rasakan dalam satu waktu. Tapi Yuna tidak mau ambil resiko, jika dia terus di sini mungkin Yuna akan bertemu lagi dengan Renan mantan suaminya.
Langkah Yuna pun, menuju ruang HRD di mana dia akan memberikan surat pengunduran diri. Ya, Yuna yang menjadi tulang punggung keluarga, harus mengundurkan diri dari tempat kerjanya.
"Kamu serius akan mengundurkan diri?" ucap Pah Roni.
"Iya pak, saya mau mengundurkan diri saja," jawab Yuna.
"Ya sudah kalau begitu, saya terima surat pengunduran diri kamu."
"Terima kasih pak. Hmm... Pak saya mau minta tolong sama bapak, kalau ada yang cari saya. Tolong bapak jangan beritahu alamat saya atau tentang saya," pinta Yuna.
Roni menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan heran. Ingin bertanya lebih lanjut, tapi Roni lebih memilih untuk diam tidak ingin tahu. "Baiklah Yuna, saya tidak akan memberi tahu siapa pun."
"Sekali lagi terima kasih pak. Saya permisi." Yuna pun segera pergi meninggalkan ruangan Roni.
Tidak berselang lama Yuna pergi meninggalkan tempat kerjanya. Datanglah Renan dengan Tama ke tempat hotel itu. Mereka berdua berjalan menuju ruangan HRD.
"Permisi pak," sapa Renan.
"Ya, ada yang saya bantu?" tanya Roni.
"Saya mau menanyakan sesuatu, apa ada pegawai bapak yang bekerja di sini bernama Yuna?"
"Yuna siapa ya pak? Karena nama Yuna itu cukup banyak."
"Yuna Graseala."
Mendengar pertanyaan Renan, tentu saja Roni ingat dengan ucapan Yuna. "Oh tidak ada pak."
Renan menautkan ke dua alisnya heran. "Tidak ada? Anda tidak berbohongkan? Apa boleh saya melihat nama-nama pegawai yang bekerja di sini?"
"Maaf pak, tapi saya tidak boleh memberikan informasi pegawai kami ke sembarang orang. Saya mohon maaf," tolak Roni.
"Tapi saya—"
"Ren, jangan maksa. Udah kita balik aja," ajak Tama sambil memegang bahu Renan. "Sekali lagi saya mohon maaf," ucap Tama pada Roni.
Roni hanya mengangguk, Tama dan Renan segera keluar dari ruangan HRD. "Tam lu kenapa ngelarang gua? Sebentar lagi gua bisa ketemu sama Yuna!" cibir Renan.
"Udah lu jangan halu mulu, lu gak denger apa katanya gak ada nama Yuna. Udah lu ja—"
"Permisi, saya dengar kalian mencari Yuna?" tanya Risa.
Tama dan Renan saling tatap, "Kamu kenal?"
_____________