Setelah kejadian itu, dan wanita yang bernama Jenni itu telah pergi dari apartemennya. Renan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan bertelanjang d**a.
Rasanya terlalu panas, hingga ia memutuskan untuk tidak memakai kaos polos miliknya. Kini tatapannya tertuju pada langit-langit kamarnya, bayang-bayang ucapan Jenni barusan membuat dia amat kesal.
"Apa yang harus aku sesali tentang dirinya, lucu!" Renan beranjak dari tempat duduknya, ia mengambil kaos putih polos yang sudah tergeletak di atas tempat tidur miliknya.
Memakai kaos tersebut dan melangkahkan kakinya menuju balkon. Hawa dingin karena angin malam sangan menusuk hingga tulang. Tapi Renan tetap berdiri tegap dengan tatapan menuju langit gelap.
Hembusan napasnya terasa begitu berat, sosok yang dia rindukan lagi-lagi selalu terbayang dalam pikirannya. "Yuna..." ucapnya dengan lirih.
Renan mengambil sebatang rokok dari bungkusnya, ia apit di sela-sela jarinya dan Renan nyalakan korek api, hingga asap putih mengepul ke udara. Hanya ini yang bisa Renan lakukan untuk menenangkan dirinya.
---
Yuna Graseala—wanita berumur 26 tahun yang kini sudah menyandang janda selama lima tahun. Terakhir dia bercerai, membuat dirinya takut untuk menjalin hubungan dengan lawan jenisnya.
Ketakutan Yuna, menjadi sebuah trauma besar dalam hidupnya. Kata-kata yang menyakitkan dari keluarga mantan suaminya masih melekat di dalam hati Yuna. Entah sampai kapan luka itu akan sembuh, atau tidak akan pernah sama sekali.
Padahal banyak sekali pria yang ingin menjadikannya istri. Namun, Yuna lebih betah sendiri. Toh, umurnya masih 26 tahun tidak terlalu tua.
Terdengar suara ponsel berbunyi, tatapan Yuna kini teralihkan pada ponselnya yang berbunyi. "Siapa jam segini?" gumamnya yang baru saja terbangun tepat pada pukul jam empat dini hari.
Yuna segera menatap layar ponselnya yang menyala. Keningnya mengkerut saat nama Farhan terpampang di layar ponselnya.
"Farhan?" Yuna berdecak kesal, ia simpan kembali ponselnya di atas nakas dengan di mode silent.
Pasalnya Farhan adalah atasan di mana tempat ia bekerja. Di tambah Farhan teman lama Yuna saat sekolah dulu. Semenjak Yuna memutuskan kembali ke ibu kota untuk mencari pekerjaan, Yuna tidak sengaja bertemu dengan teman lamanya itu.
Yuna pun meminta pekerjaan pada Farhan. Awalnya Farhan tidak enak pada Yuna karena memberikan pekerjaan sebagai office girl. Namun, Yuna tidak keberatan sama sekali, yang di dalam pikirannya adalah yang penting kerja.
Dari sanalah Farhan sering menghubungi Yuna. Di tambah Farhan sangat perhatian pada Yuna, baru beberapa minggu saja bekerja Yuna sudah mendapatkan haters, karena kedekatan dengan Farhan.
Yuna memilih untuk beranjak dari tempat tidurnya. Ia meregangkan otot-otot tubuhnya sebelum membersihkan diri.
Terdengar suara ponsel Yuna berdering kembali. Kali ini hanya sebuah pesan yang masuk.
Farhan: nanti aku jemput kamu ya. Kita sarapan bareng.
Membaca pesan Farhan membuat Yuna memejamkan matanya sejenak dan menarik napasnya dalam. Jemarinya kini ikut bergerak di atas layar ponsel.
Yuna: Gak usah Han, aku sendiri aja. Nanti malah kita jadi bahan omongan lagi. Aku cuman pengen kerja dengan tenang. Ok? Sorry!
Farhan: Nanti kamu turun aja sebelum kantor kan bisa Yun, mau ya?
Yuna memutar bola matanya jengah. "Nih cowo gak paham-paham apa gimana sih? Gedek lama-lama gua. Mentang-mentang ngasih gua pekerjaan." Gerutunya dengan jemari mengetik pesan untuk Farhan.
Yuna: Please Han, kamu ngertiin aku dong. Aku cape udah di gosipin aja. Sekali lagi makasih dan maaf udah nolak.
Farhan: Ok, tapi bolehkan kalau di luar jam kantor?
Yuna sempat menggigit bibir bawahnya terlebih dahulu. Ragu sebenarnya mengizinkan Farhan untuk menemuinya di luar jam kantor. Karena kita tidak tahu di luar sana ada beberapa pasang mata, yang bisa saja mereka temui.
Pada akhirnya...
Yuna: Iya, tapi jangan sering ya. Aku gak mau pada salah paham tentang aku sama kamu.
Farhan: Salah paham juga gak apa-apa kali Yun. Tinggal kita benarkan aja ucapan mereka.
Yuna membulatkan matanya selebar-lebarnya. Benar kan ada udah di balik bakwan, eh batu. Farhan emang memiliki rasa pada Yuna.
Yuna: Han, please...
Farhan: Bercanda, ok semangat kerjanya ya.
Yuna: Ok, kamu juga.
Yuna mengakhiri pesan mereka berdua, dan memilih untuk segera membersihkan dirinya.
---
"Yuna, tolong bersihkan ruang meeting di lantai lima ya. Soalnya nanti akan ada meeting dua perusahaan besar," titah sang manager.
"Baik bu, saya akan bersihkan."
"Beritahu juga temanmu yang lain." Yuna hanya mengangguk tanda ia paham.
Yuna dan beserta yang lainnya membersihkan ruangan. Salah satu dari mereka ada yang mendekat pada Yuna.
"Yun, kok aku gak liat kamu dia anter sama oak Farhan tadi pagi? Kenapa?" tanya Risa.
"Gak apa-apa, lagian saya hanya bawahan," balas Yuna dengan tetap fokus membersihkan ruangan.
"Justru kamu bawahan sering di pake ya? Berapa tarif semalam?" tanyanya kembali dengan penuh tatapan sindir.
Tangan Yuna terkepal kuat pada alat vacum yang sedang di pegang. Rasanya ingin sekali Yuna menvacum mulut temannya yang busuk itu.
"Maaf jangan asal ngomong ya, aku dengan pak Farhan itu dulunya teman sekelas. Jadi wajar kalau kami masih tetap dekat!" jelas Yuna.
Risa tersenyum smirk mendengar penjelasan Yuna. Tentu saja dia tidak percaya dengan penjelasan Yuna.
"Terus kita bakalan percaya gitu aja? Dengan semua penjelasan kamu yang tidak masuk akal itu?"
Yuna mendengus kasar, dadanya naik turun mengatur napas, menahan emosi yang ingin memuncak.
"Terserah kalian aku gak peduli!" balasnya sambil melanjutkan kembali pekerjaannya. Tidak lama seorang wanita masuk ke dalam ruangan.
"Sudah selesai pekerjaan kalian?" tanyanya.
"Sebentar lagi Bu," jawab Risa.
"Kalau gitu cepat, ruangan ini akan segera di pakai. Paham?"
"Iya bu."
Wanita yang merupakan manager hotel itu pun segera keluar dari sana. Risa dan teman-temannya menoleh ke arah Yuna.
"Beresin semuanya ya, kita gak mau tau!"
Mendengar itu Yuna jelas tidak terima. "Enak aja, kerjain bareng-bareng jangan seenaknya kaya gitu!"
"Berani banget ya lo sama gua!"
Sebelah sudut bibir Yuna tertarik membentuk senyuman miring. "Emang kalian siapa? Bisa seenaknya. Kalian mau saya laporin?" Ancam Yuna.
"Sialan!" Risa melangkah mau lebih dekat.
"Di sini ada cctv, tingkah lu bakal terekam. Kecuali kalau lu udah bosen kerja!" cibir Yuna dengan tatapan kemenangan.
Risa mengepalkan tanganya, "Sialan, awas lu ya!"
"Terserah!"
Mau tidak mau Risa dan yang lainnya, kembali bekerja. Hingga semuanya selesai, ruangan pun selesai di bersihkan.
Sayangnya, Risa membiarkan Yuna sendiri yang membereskan alat yang tadi mereka bawa. "Sialan awas aja mereka!"
Yuna meletakkan kembali alat bersih-bersih yang mereka gunakan sambil terus menggerutu. Hingga akhirnya Yuna memutuskan untuk beristirahat, ia ingin membeli minuman dingin yang ada di luar tempat bekerja.
Saat Yuna berjalan dengan matanya terfokus pada layar ponselnya. Karena ibunya memberikan pesan padanya. Tidak sengaja Yuna menabrak seseorang, hingga tubuhnya hampir hilang keseimbangan.
Untung saja, pria yang dia tabrak memegang tangannya. "Maaf pak maaf saya tidak sengaja!"
Yuna menundukkan kepalanya tanpa melihat siapa yang dia tabrak dan segera pergi meninggalkannya.
"Eh tunggu, ini gelangnya." Namun, Yuna sudah terlanjur pergi.
"Apaan itu?" tanya Tama.
Renan langsung melihat benda yang ada di tangannya. Sebuah gelang tangan dengan ada inisial huruf Y.
"Gelang, huruf Y?"
___________