POV Satria "Gak mau turutin, Mas?" tanyanya lagi. Air mata yang meleleh di pipinya kuusap pelan. "Namanya juga berumah tangga ya pasti akan disibukkan dengan anak-anak, Sayang. Kecuali kalau kita tidak punya anak itu beda. Kita seharusnya bersyukur karena memiliki anak. Banyak pasangan lain di luar sana yang tidak memiliki anak sampai adopsi anak. Kita, seharusnya bersyukur, jangan mengeluh terus." "Ya," katanya. Ditariknya napas, lalu menatap ke arah lain. "Kan Mas bantu adik, Mas tidak hanya diam menyaksikan. Mas bantu masak, mengepel lantai, juga memandikan si kembar," kataku lagi. "Ya," jawabnya. "Jadi intinya Mas gak mau kabulin permintaanku, kan?" tanyanya, memandangku dengan sorot sedih. "Sayang, kenapa kita jadi membahas ini? Adik kan tahu sendiri Mas tidak suka ada orang

