Apotek telah terlewat sejak 15 menit lalu. Keramaian kota hilang ditelan oleh kecepatan 5 mobil BMW hitam yang melesat bergantian persis seperti balapan liar. Penunggang di baliknya tidak perlu lagi menjaga jarak. Mereka kini telah memasuki kawasan sepi penduduk dan pemukiman. “Halo guys, kalian yakin tidak salah memberiku jalan?” tanya Aldrich di balik protofonnya. Suaranya terdengar ramah karena mungkin dia akan menganggap 5 ajudan itu sebagai temannya. “Tidak Tuan. Inilah jalanan yang kami lewati kemarin. Seperti pada gambar.” “Oke … jadi kemarin kalian melewati jalanan aspal sempit untuk dua jalur. Di mana kanan-kirinya pepohonan? Maksudku, kenapa ini sepi sekali? Kalian tidak sengaja membuat pengguna jalan pergi dari sini, ‘kan?” Beberapa ajudan terkekeh oleh guyonan Aldrich.

