Sentuh Aku Sebanyak Kau Mau

1031 Kata
"Sentuh aku sebanyak kau mau…" Kalimat itu keluar seperti desahan terakhir. Air matanya terus mengalir, membasahi bantal, tapi Saskia sudah tak peduli. Hidupnya sudah hancur berkeping-keping. Menjadi pemuas nafsu lelaki ini pun tak apa, asal bisa bertahan hidup. Apa lagi yang harus dia jaga? Keperawanannya? Harga dirinya? Semua sudah tidak ada artinya. "Kau yakin?" Geo mendesak, tangannya masih menggantung di pangkal paha Saskia, seolah menunggu izin terakhir. Saskia mengangguk lemas, matanya kosong. Ada sesuatu di d**a Geo yang berdesir aneh melihat kepasrahan total di mata gadis itu. Sebuah keputusasaan yang begitu dalam hingga membuatnya sesaat ragu. "Malam ini kau akan kehilangan sesuatu yang mungkin akan kau sesali selamanya," Geo mencoba menakut-nakuti, suaranya berat seperti batu. Dia ingin Saskia melawan, ingin melihat sedikit perlawanan dalam matanya. "Tidak apa… asal bisa membayar kesalahan orang tuaku…" jawab Saskia dengan suara datar, seolah yang hilang bukan sesuatu yang berharga. Mendapat lampu hijau, tangan Geo memberanikan diri. Jarinya menyentuh sesuatu yang lembab, hangat, dan begitu rentan. "Ah—!" Saskia terkesiap. Jantungnya serasa terhenti. Bibirnya tergigit kuat hingga berdarah ketika jari Geo mencoba masuk lebih dalam. Tapi tiba-tiba Geo menarik tangannya, seolah tersengat listrik. "Basah," ujarnya, memperlihatkan ujung jarinya yang masih berkilat. "Kau tahu artinya? Tubuhmu lebih jujur dari mulutmu. Kau sangat ingin disentuh." Saskia memalingkan muka. Rasa jijik membakar tenggorokannya, tapi tak bisa menyangkal ada rasa penasaran nakal yang membara di perutnya. "Kenapa membuang muka? Malu?" goda Geo, senyum tipisnya menyakitkan. Saskia menarik napas dalam. Dia merasa dipermainkan seperti tikus di cakar kucing. Lalu, dengan berani, dia menatap Geo lebih lama—mencoba menghafal setiap detail wajahnya: rahang kuat yang tegas, fitur sempurna yang terukir bak patung dewa, lebih mematikan dan memesona dari siapa pun yang pernah dia lihat. "Kenapa menatapku begitu?" tanya Geo, tak biasa diperlakukan seperti ini. Biasanya wanita langsung menyerah hanya dengan tatapannya. "Kamu sangat tampan…" Kata-kata itu membuat Geo tersentak. Ditambah lagi ketika Saskia mengambil tangannya yang masih basah dan menaruhnya di payudaranya yang bergetar. "Sentuh aku sebanyak kau mau, Om… jadikan aku alat pemuasmu. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi." "Kamu yakin?" Geo mengulang, suaranya serak. Tangannya gemetar ringan. "Kenapa jadi Om yang ragu?" "Saskia Tanto… setelah sekali aku menyentuhmu, semuanya tak akan sama lagi. Kau akan kubuat kecanduan, akan kujadikan milikku sepenuhnya." "Aku tahu. Kamu sudah berkali-kali bilang itu. Lakukan saja." Tangan Geo masih diam di atas payudaranya. Saskia lalu membimbingnya untuk meremas—namun Geo tetap beku, terperangkap dalam konflik batinnya sendiri. "Kau akan menyesal…" gumamnya, matanya gelap. Saskia tersenyum getir. "Mungkin. Tapi apa aku punya pilihan? Lepaskan aku atau milikilah aku. Jangan setengah-setengah, Om." Pertanyaan itu membuat Geo bingung. Di depan gadis ini, sifat garangnya tiba-tiba luruh. Dengan gerakan cepat, Saskia melepas kaosnya. Hanya bra renda pink yang tersisa, membungkus payudaranya yang montok dan p****g yang sudah tegang. Geo merasa naluri lelakinya membara, tapi keinginannya justru tertahan oleh sikap Saskia yang tak terduga. "Kenapa tidak disentuh? Kurang besar? Tidak menarik, ya?" tantangnya, matanya berapi-api. "Sentuh aku! Rusak aku! Apa lagi yang Om tunggu?" "Jangan menantangku, Saskia!" geram Geo, genggamannya pada bahu Saskia mengeras. "Aku sudah bilang aku jelek dan tidak menarik. Lepaskan aku, Om—" Kata "lepas" itu memicu amarah Geo yang tertahan. Dia mendorong Saskia ke kasur, tubuhnya menindih dengan kekuatan penuh. "Kau yang meminta ini," desisnya di telinga Saskia. "Jangan salahkan aku nanti." Saskia memejamkan mata, tubuhnya kaku saat tangan Geo merayap ke belakang punggungnya. Dengan gerakan mahir dan terlatih, kait bra-nya terbuka. Rasa longgar yang tiba-tiba membuat napas Saskia tersekat. Begitu Geo menarik dan membuang bra itu ke sudut ruangan, udara dingin kamar menerpa kulitnya yang sensitif, membuatnya menggigil. "Ah, sial! Kenapa aku jadi gugup? Ini cuma gadis delapan belas tahun!" Geo mengutuk dalam hati. Dia tak boleh menunjukkan keraguan. Saskia harus tetap melihatnya sebagai predator yang berbahaya, bukan pria yang goyah. Saskia masih menunggu dengan pasif, tapi ada kecerdasan baru di matanya. Dia mulai memahami cara bermain Geo. "Om mau aku lepas celana juga?" Saskia berdiri di atas kasur, melepas celana pendeknya hingga hanya tersisa celana dalam tipis. Geo memalingkan pandangan, tak sanggup menatap langsung. Tubuh mungil itu turun dari ranjang dan mendekati Geo yang enggan menatap. Saskia mengambil kedua tangan besar Geo, menaruhnya di payudaranya yang bergetar. Saat kulit kasar Geo menyentuhnya, napas Saskia tercekat. Ujung payudaranya yang sudah menegang menjadi semakin sensitif, menyala setiap sentuhan. "Kau yakin?" suara Geo serak. "Ya... asalkan aku bebas setelah ini. Aku akan lakukan dengan sukarela." "Kau mencoba bernegosiasi?" "Ya... Aku tak ingin dikurung. Aku ingin tetap kuliah..." "Kau mulai berani?" Geo menarik tubuh Saskia hingga jatuh di pangkuannya. "Apa aku bisa?" "Kita lihat apa yang bisa kau berikan malam ini," Geo akhirnya menyadari arah pembicaraan Saskia. Dia tak percaya dirinya sendiri yang bersedia bernegosiasi dengan gadis yang baru dikenalnya beberapa jam lalu - putri musuhnya. "Om suka yang bagaimana? Biar aku belajar?" "Tunjukkan sisi liarmu!" "Hm?" "Sisi liarmu..." bisik Geo sambil menggigit cuping telinga Saskia, gigitannya cukup keras untuk membuat Saskia merintih. "Aku ingin melihat api di matamu. Bukan kepasrahan ini." Tangan Geo meremas p******a Saskia dengan possessif, sementara bibirnya menghukum leher Saskia dengan ciuman yang hampir menyakitkan. Saskia mengerang, tangannya mencengkeram baju Geo, antara ingin mendorong atau menariknya lebih dekat. "Tunjukkan padaku bahwa kau layak dapat kebebasanmu," desis Geo, mulutnya berkelana ke bahu Saskia. "Buatku percaya bahwa kau lebih dari sekedar korban." Saskia menarik napas dalam, matanya berkaca-kaca tapi bertekad. Dia mulai membalas gigitan Geo dengan giginya yang kecil di bahunya, membuat Geo terkejut lalu mendengus puas. "Bagitu..." gumam Geo, sekarang dengan nada menghargai. "Mungkin memang ada darah Josh Tanto dalam dirimu." Tapi kali ini, Saskia tidak menolak ketika Geo menidurkannya kembali ke kasur. Ada pergeseran kekuatan yang halus antara mereka - sebuah permainan baru yang lebih berbahaya dari sebelumnya Tanpa peringatan, tangan Geo meraih celana dalam Saskia dan merobeknya dengan gerakan kasar. Saskia terkesiap, tapi tidak melawan. Dia hanya menatap Geo dengan mata yang kini berisi campuran ketakutan dan keberanian yang baru ditemukan. "Kalau kau memang punya darah ayahmu, tunjukkan sekarang," desis Geo, tubuhnya menindih Saskia sepenuhnya. Bibirnya menyambar mulut Saskia dengan brutal, menggigit dan menghukum. Saskia membalas dengan gerakan canggung, tangannya mencengkeram punggung Geo, mencakar kulitnya melalui kemeja. Geo mendengus puas, tangannya merayap ke paha Saskia yang terbuka, mendorongnya lebih lebar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN