"Tidak apa-apa, Celia. Ini jalan satu-satunya untuk mama." Ia mengulang mantra itu dalam hati, mencoba menukar harga dirinya dengan nyawa Ibunya.
Di dalam kamar suite hotel mewah, Celia duduk kaku di tepian ranjang berukuran besar. Gaun malam transparan yang membalut tubuhnya terasa dingin, kontras dengan gemuruh cemas di dadanya.
Tubuhnya gemetar, bukan karena kedinginan, melainkan karena rasa gentar dan jijik pada situasi yang ia hadapi. Ia memejamkan mata erat.
“Tidak apa-apa, tidak apa-apa…”. Ucap Celia lirih tangannya saling meremas, bibirnya terus komat-kamit untuk meneguhkan pendiriannya yang nyaris goyah.
Sebuah denting pelan dari keycard memecah keheningan. Jantung Celia seolah melompat ke tenggorokan. Pintu terbuka. Ia seharusnya berpose menggoda sesuai arahan mucikari, tetapi kakinya terasa lumpuh. Ia hanya bisa menunduk, menatap ujung kakinya sendiri yang terlihat gemetar.
Langkah kaki tegap, perlahan, dan penuh kuasa memasuki ruangan. Pria itu berdiri beberapa meter di depannya, tetapi Celia tak berani mengangkat wajah untuk menyambut pelanggannya.
Sejenak, yang ada hanyalah keheningan. Kemudian, suara itu datang. Suara rendah, dalam, dan familier, menusuk langsung ke relung ingatan Celia.
“Hai, Celia.”
Napas Celia tercekat. Dunia seakan berhenti berputar. Suara itu. Mustahil. Suara yang ia dengar dalam mimpi buruknya selama sepuluh tahun. Suara mantan kekasih yang bersaksi melawannya, agar ia dijebloskan dalam penjara.
Perlahan, tubuh Celia menegang, dan ia mendongak. Matanya yang berkaca-kaca bertemu dengan tatapan dingin pria di hadapannya.
“Alex?” Suara Celia nyaris tak terdengar, hanya sebuah bisikan yang lebih mirip ratapan.
Celia tersentak. Rasa syok segera berganti menjadi amarah dan keputusasaan. Ia membalikkan badan, berjalan tergesa menuju lemari. Dengan tangan gemetar, ia meraih pakaiannya yang tergantung di sana.
“Kau mau ke mana? Aku sudah membelimu.” Suara Alex terdengar dingin, dihiasi nada ejekan yang menusuk.
Sebelum Celia mencapai pintu, tangan Alex mencengkeram pergelangannya dengan kuat, menghentikan langkahnya.
“Aku akan membatalkannya,” ucap Celia datar, menolak menatap mata Alex.
Cengkeraman itu berubah menjadi tarikan kasar. Alex memaksa Celia berputar hingga tubuh mereka berhadapan. Celia tetap memalingkan wajah, menolak memberikan kepuasan.
Alex mencondongkan tubuhnya, suaranya berbisik tajam, tepat di telinga Celia.
“Apa kau mampu mengganti denda pembatalan? Seratus lima puluh persen. Lebih tepatnya, tiga ratus juta.”
Celia memejamkan mata, menahan getaran di seluruh tubuhnya. Ia menghela napas panjang, berat, seolah baru saja menelan sebongkah batu.
Alex tidak memberi jeda. Ia melanjutkan, menjatuhkan pukulan telak yang paling efektif.
“Apa kau tega membiarkan ibumu kesakitan, tanpa pengobatan yang ia butuhkan?”
Mata Celia seketika terbuka. Amarah murni tersembur dari pandangannya. “Dari mana kau tahu soal Ibuku?” tanyanya ketus.
Alex menyeringai tipis, sebuah ekspresi kepuasan yang kejam. Ia melepaskan cengkeramannya, tetapi tetap berdiri sangat dekat.
“Kau pikir aku bisa membiarkanmu bebas berkeliaran setelah membunuh ibuku?” Alex berucap, setiap kata mengandung beban dendam selama sepuluh tahun.
“Setiap penderitaanmu adalah tontonan yang sangat menyenangkan bagiku.” tambah Alex dengan nada dingin
Air mata Celia luruh. Itu bukan air mata kesedihan, melainkan kekalahan mutlak. Ia tahu ia terperangkap, dan Alex memegang satu-satunya kartu yang ia perjuangkan: nyawa ibunya.
Celia, dengan tatapan yang kosong, ia melucuti gaun pakaiannya satu persatu di hadapan Alex. Kain sutra terakhir jatuh ke lantai, meninggalkan tubuhnya telanjang bulat, rapuh, namun memberontak.
Celia menatap Alex dengan mata basah, tetapi suaranya stabil, memancarkan keputusasaan.
“Lakukanlah sepuasmu, Alexander Darmawan. Kau sudah membeliku.”
****
Flashback: Sepuluh Tahun yang Lalu …
Cahaya sore menembus jendela kamar yang berdesain maskulin. Celia dan Alex masih mengenakan seragam putih abu-abu mereka, duduk bersisian di meja belajar. Celia dengan sabar menjelaskan rumus matematika yang rumit, namun Alex sama sekali tidak fokus pada buku di depannya. Matanya hanya tertuju pada wajah Celia, dipenuhi tatapan kekaguman remaja yang kasmaran.
"Alex, dengar tidak, sih?" keluh Celia, bibirnya sedikit mencebik kesal. "Ini tentang integral!"
Alih-alih menjawab, Alex justru mencondongkan tubuhnya. Ia menangkup wajah Celia dan mendaratkan ciuman lembut di bibirnya. Ciuman singkat itu menghentikan semua keluhan.
"Belajarnya sudah cukup," bisik Alex serak saat ia melepaskan ciuman sejenak, hanya untuk kembali melumat bibir Celia dengan lebih menuntut.
Gairah remaja mereka langsung tersulut. Ciuman itu memanas, dan tangan Alex dengan cepat bergerak liar. Dengan terburu-buru, ia membuka satu per satu kancing seragam putih Celia. Tangannya mulai meraba lembut gundukan di balik seragam itu.
Celia tersentak. Kesadaran tiba-tiba menariknya kembali. Ia mendorong bahu Alex pelan.
"Cukup, jangan, Alex ..." napas Celia memburu. "Nanti kebablasan."
Celia segera mengancingkan seragamnya kembali, sementara raut kecewa terlihat jelas di wajah Alex.
"Aku akan menikahimu, masa tidak boleh?" rengek Alex, suaranya terdengar tidak puas.
Celia meraih tangan Alex dan mencium punggung tangannya dengan lembut. "Aku mengerti, dan aku pasti akan memberikannya padamu." Ia mencondongkan tubuh, berbisik pelan dan penuh makna di telinga Alex, "Darah perawanku."
Lalu, Celia menarik diri sedikit. "Tapi tidak sekarang. Nanti, setelah kita resmi menikah."
Alex menatapnya dengan tatapan penuh keraguan. "Bagaimana kalau nanti kau tidak menikah denganku?"
Celia tersenyum, senyum janji yang memabukkan. "Aku pastikan darah perawanku adalah milikmu. Aku hanya akan menikah denganmu." Ia menepuk tangan Alex. "Ayo, sekarang kita belajar lagi."
****
Masa Kini.
Alex menatap tubuh Celia yang telanjang bulat di hadapannya, postur pasrah yang menantang itu justru memicu amarah dan hasratnya.
“Akhirnya kau sadar diri juga.” Suara Alex menusuk, terdengar dingin namun memiliki lapisan kepuasan yang kejam. “Bukankah kau pernah berjanji akan memberikan darah perawanmu padaku?.”
Ejekan itu, mengingatkan kenangan indah yang kini terasa kotor, membuat air mata Celia meluncur deras. Ia menangis tanpa suara, tanpa isakan. Matanya kosong, memantulkan trauma dan kekalahan yang tak terperi.
Alex melangkah mendekat. Perlahan, ia mengangkat tangannya dan mengusap lembut bibir Celia dengan ibu jarinya, sebuah gerakan yang dulu dipenuhi cinta kini terasa merendahkan.
“Bibir ini …” bisik Alex, suaranya kini sedikit bergetar oleh hasrat yang lama terpendam. “Lama sekali aku tidak merasakannya.”
Alex membungkuk dan mencium bibir Celia. Ciuman itu dimulai dengan lembut, namun di tengahnya, Celia merasakan jijik yang menjalar. Ia hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan air matanya membasahi pipi. Ia menahan napas, berharap adegan ini segera usai, berharap dirinya bisa lenyap.
Alex melepaskan ciuman itu dengan tarikan napas berat. Sorot matanya kini tajam, hanya dipenuhi gairah dan tuntutan. Ia mendorong Celia agar berbaring di ranjang, gerakan yang tidak kasar, tetapi memaksa.
Sambil menatap dingin wajah Celia yang terpejam, Alex mulai melucuti pakaiannya sendiri satu per satu.