“Biarkan saja, anggap mereka iri.” Martha akhirnya tergugah. Sudah beberapa hari ia memikirkan tentang ciuman Viero dan kali ini ia membalas ciumannya. Ia melumat, memagut, dan mendengar deru napas Viero yang memburu. Perasaan senang menguasainya karena sudah berhasil membuat laki-laki itu terbakar hasrat. Mereka saling melepaskan diri, setelah saling mencumbu tanpa kenal waktu. Viero pamit pulang, dan membiarkan Martha turun dari mobil dengan bibir bengkak dan wajah merah padam. “Semakin b*******h, dia semakin terlihat cantik,” gumam Viero saat mengamati punggung Martha yang mcnghilang kc dalam ooby apartemen. “Martha, semoga kamu menerimaku.” Setelah kebersamaan mereka hari itu, selanjutnva Martha lebih ramah. Sikapnya lebih melunak terhadap pendekatan yang dilakukan Viero. Mernbalas

