“Kamu itu!!!” tegur seorang laki-laki tua yang mengenakan peci dan sarung di emperan mushola pojok desa Kalirejo. “Malu sama namamu, Le,” lanjut laki-laki tua itu setelah menghela napas panjang. Udin hanya terdiam dan menundukkan kepala. “Orangtuamu memberi kamu nama yang bagus. Fakhruddin. Kebanggaan agama. Tapi kamu sama sekali tak menunjukkan kehidupan yang bisa membanggakan agamamu!” Sebulan lalu, Udin bertemu dengan laki-laki tua yang sekarang sedang menceramahinya ini. Laki-laki tua itu bernama Ahmad. Di desa Kalirejo ini, Ahmad memiliki panggilan Yai Ahmad. Dia guru ngaji anak-anak di mushola yang sekarang menjadi tempat obrolan mereka berdua. Awalnya, Udin hanya berniat sesekali dua berkunjung ke mushola dan menunaikan sholat di sana. Hal yang hampir tak pernah dia lakukan se

