Setelah waktu yang dirasa cukup lama, malam ini Tasya dan Damar kembali makan malam bersama di apartemen. Namun, suasana makan malam kali ini terasa sangat dingin karena Damar memasang wajah yang kurang bersahabat. Damar hanya diam saja selama mereka makan, membuat Tasya tidak berani membuka suara. Tasya tidak tahu alasan yang membuat Damar bersikap seperti itu. Saat mereka sarapan bersama tadi pagi, sikap Damar masih baik-baik saja. Tasya menghabiskan makanan di piringnya, lalu bangkit berdiri. Ketika dia akan meninggalkan meja makan, Damar akhirnya angkat bicara. “Aku mau bicara sama kamu, Sya,” ucap Damar, menatap Tasya. Tasya yang akan menaruh piring kotor di wastafel mengurungkan niatnya mendengar ucapan Damar. “Mau bicara apa, Mas?” tanyanya heran. Tidak biasanya Damar bersikap s

