Pintu di belakang Damar tiba-tiba terbuka. Damar menoleh dan melihat Tasya berdiri di balik pintu sambil menatapnya dengan sorot mata terkejut. “Pak Damar,” panggil Tasya dengan suara tertahan. “Apa yang Bapak lakukan di depan sini?” tanyanya menatap Damar dengan raut wajah heran. “Aku ingin menjenguk ayah kamu lagi, Sya,” jawab Damar, bangkit berdiri. “Bukankah kemarin Bapak sudah menjenguk ayah saya? Untuk apa sekarang Bapak menjenguknya lagi?” tanya Tasya, menaikkan sebelah alisnya. “Memang ada larangan nggak boleh menjenguk ke rumah sakit berkali-kali, Sya?” Damar balik bertanya dengan raut wajah polos. Tasya berdecak. “Nggak ada larangan, Pak. Terserah Bapak mau menjenguk satu kali, dua kali atau ratusan kali,” ujarnya tampak kesal. Damar tersenyum melihat kekesalan di wajah Tas