“Ayo, cepat. Kamu harus segera mengurus revisi Po nya.” Naka mengedik kepala ke arah mobilnya terparkir. Tidak memberi pilihan pada Zahra selain ikut dengannya. Ya, Zahra tahu. Dia tidak punya pilihan lain kecuali mengikuti Naka. Tatapan pria itu mengatakannya. Wanita itu berjalan di belakang sang bos, sementara Bara berjalan ke arah parkiran kendaraan roda dua. Langit memang terlihat gelap. Kemungkinan hujan akan turun tidak lama lagi. Naka menekan kunci mobil hingga kuncian semua pintu terbuka. Pria itu bergegas menuju pintu pengemudi sedangkan Zahra berbelok ke arah pintu di samping pengemudi. Keduanya masuk dari arah yang berbeda. “Jadi … apa yang sudah kamu ceritakan pada mamaku?” Zahra yang baru duduk, menoleh. Tangan wanita itu berhenti bergerak yang semula hendak menarik seat b