Diantara kalian

2095 Kata
Siang ini Isabella memutuskan untuk melakukan rutinitas seperti biasa. Tidak lagi hanya duduk, mondar mandir tidak jelas di kamar, rebahan dan berakhir pada puluhan episode drama korea yang mampu dia tonton tanpa ada kebosanan. Isabella ingin ke kampus. Isabella masih ingat kata-kata Beryl ketika dirinya masih tinggal di apartemen laki-laki popelar itu: “Kenapa cewek suka drakoran?” dan dengan tampang serius Isabella menjawab, “Karena cowok di dunia drama nggak ada di dunia nyata.” ujarnya sok bijak padahal dia sendiri tidak tahu alasan mengapa banyak orang terkhusus kaum-kaum perempuan jatuh cinta pada karakter pemain drama Korea. Kemungkinan alasan terbesar sih, karena cowok di drama korea sangat peka akan kode pasangan, lalu mereka berjuang, cinta sejati, happy ending. Sementara di dunia nyata para perempuan-perempuan itu cenderung menemukan tipe laki-laki buaya darat serta bertingkah semaunya sendiri. Tapi kembali lagi, manusia diciptakan berpasang-pasangan. Tidak mungkin akan tertukar soal jodoh. Hanya saja belum menemukan orang yang memang menjadi takdirnya saja. Huh, pikiran Isabella jadi berkelana kemana. Padahal dia tidak ingin berpikir keras. “Isabella…” panggilan Sherly membuatnya segera berjalan lurus ke arah sang sahabat. “Uhhh…kangen.” ujarnya lalu memeluk erat Isabella. Isabella tidak masuk kuliah kira-kira dua mingguan. Dia sakit, benar. Tapi alasan dibaliknya tentu saja tidak akan diumbar ke orang-orang. Isabella harus menjaga privasi sendiri. “Luka lo gimana?” Sherly dengan hebohnya menatap paha Isabella. Sebenarnya Isabella pakai celana kain panjang. Tapi dia sempat mengatakan jika kaki bagian kanan, paha, yang terluka. Karena tidak sengaja jatuh dari tangga. Isabella merapatkan maaf berkali-kali pada orang yang terpaksa dibohongi. Tidak ada pilihan lain, Isabella harus melakukan sandiwara. “Udah nggak papa.” Isabella menatap sekitarnya, “Teman-teman yang lain mana?” Isabella sudah merindukan para sahabatnya yang cantik-cantik itu. “Mereka masih harus ambil data buat tugas. Karena lo masuk kelompok gue dan tugas kita juga udah kelar jadilah gue bisa nongki-nongki nemenin elo disini.” Isabella cemberut padahal dia kangen banget sama para sahabat cantiknya. Namun mau bagaimana lagi, tugas kuliah juga nomor satu sekarang. Tidak boleh egois. “Eh, terus-terus tugas kita gimana?” “Kan, kan, udah gue bilang. Kita udah selesai. Lo yang ngerjain proposal kan, ngerapihin juga.” Sherly berceloteh riang. Seolah tidak ada beban masalah apapun dalam hidup. “Gue nggak ikutan ambil data loh…” Tidak mungkin kan, Isabella akan senang sementara teman-temannya yang lain kesusahan. Ini sih lebih ke arah rasa memanfaatkan nggak, sih. Sherly meminum milkshake strawberry, “Santai aja. Itu juga usaha kok. Teman-teman udah paham juga.” “Oke, thanks ya.” Sherly menatap Isabella dengan mata berbinar. Tidak biasanya sahabatnya ini bersikap demikian aneh. “Apa?” kata Isabella tidak mengerti. pasti ada sesuatu kalau tatapan Sherly berubah seperti itu. “Ada kabar terbaru, terheboh, dan elo nggak cerita sama gue.” Sherly merubah mimik wajah menjadi cemberut, “Gue ini siapa elo sih?” Sherly sebal sendiri. Isabella masih tidak mengerti, “Gimana-gimana gue beneran nggak ngerti, beb.” Isabella saja baru masuk kampus hari ini. Ternyata kelas kosong digunakan melanjutkan tugas penelitian. Alhasil disinilah dia dan Sherly sekarang, ngopi-ngopi cantik. Tapi mereka justru pesan milkshake strawberry. “Lo jadian sama Beryl?” Sherly menjeda kalimatnya, “Apa sama Nando sih?” Sherly penasaran. Masak sebagai sahabat dia enggak tau apa-apa tentang kisah kasih orang terdekatnya. “Gu…gue..gue…” Isabella bingung sendiri, kan kalau begini. “Gue nggak sama siapa-siapa.” Akhirnya Isabella memilih jawaban yang paling tepat karena setelahnya seorang perempuan manis dengan jas almamater menghampirinya. “Maaf mengganggu. Lo Isabella, bukan?” katanya bertanya dan menghentikan perbincangan antara Isabella dan Sherly. Isabella menatap Sherly sejenak. Lalu teralih pada perempuan manis ini. “Kenapa, ya, nyari gue?” “Bisa bicara sebentar?” "Masalah apa lagi ini." batin Isabella merasa tidak enak. Isabella terpaksa menyudahi pertemuannya dengan Sherly padahal dia masih kangen banget. Sempat Isabella tangkap wajah kecewa sang sahabat tapi mau bagaimana lagi. Isabella tidak mungkin juga mengobrol di jarak dekat dengan Sherly. “Nanti kita ketemu di kelas, ya.” Isabella mencoba menyenangkan sahabatnya. “Oke.” Sherly mengangguk cepat lalu berlaih pada ponselnya. Kemungkinan seseorang menghubungi. ______________________________________ “Ada apa?” Isabella duduk di sebuah kafe yang terletak di seberang jalan raya. Kafe ini lebih didominasi anak fakultas hukum dan seketika Isabella tercengang saat pantatnya mendarat sempurna di kursi. Dia jadi teringat Beryl. “Ini tentang Beryl.” katanya sembari memberikan senyuman manis. Entah kenapa Isabella merasa perempuan ini punya aura yang aneh. Dia lebih banyak senyum sedari tadi, padahal pembahasan mereka tidak lucu sama sekali. Malah terkesan serius. Dia memang terlihat ramah tapi orang dengan tipe ramah tidak melulu harus tersenyum terus bukan?! Mereka pasti mengerti situasi kapan harus senyum kapan harus serius. “Kenapa?” Pada akhirnya Isabella tidak ingin melabeli buruk perempuan yang dia tahu pacar Beryl ini. “Kemarin Beryl ke rumah elo.” Mata Isabella berkedip beberapa kali, ini pertanyaan atau pernyataan sih. Kepala Isabella mengangguk saja sebagai jawaban, “Ada masalah ya…?” ujarnya berhati-hati agar tidak memicu masalah baru. “Aida. Panggil gue Aida.” ucapnya terdengar memperkenalkan diri. “Ada masalah ya, Aida?” Isabella bertanya serius. Kenapa disekeliling Beryl banyak perempuan sih. Aida memberikan sanggahan. “Bukan masalah sih. Cuma gue mau tahu antara lo dan Beryl ada hubungan apa?” Mata Isabella melirik sekitar. Dia sedikit kurang nyaman karena banyak mahasiswa yang terus memotretnya. Bukan Isabella ge-er. Tapi arah kamera seperti tertuju kepadanya. Ada apa sih dengan orang-orang hari ini?! Isabella harus segera menyelesaikan perbincangan dengan pacar Beryl lalu pergi dari tempat ini. “Nggak ada yang terjadi antara gue sama Beryl.” kata Isabella serius. Tidak perlu berbohong, Isabella memang tak punya hubungan apapun dengan Beryl, laki-laki populer itu. “Apa iya?” Aida kembali mempertegas, “Dia kemarin memang menemani gue ngerjain tugas kampus. Lalu mengantar gue selayaknya pacar. Tapi gue tahu betul kalau pikiran dia ada sama elo.” Haruskah ketika pikiran Beryl penuh dengan Isabella itu juga merupakan kesalahan dirinya?! Bukankah tidak masuk akal. “Lo yang menyebabkan Beryl seperti itu.” Aida kembali tersenyum, “Tapi dia pacar gue sekarang.” Hallo, Isabella tidak tahu arah pembicaraan Aida. Oke, Isabella akan menyimpulkan Aida menyalahkannya atas sikap Beryl yang mungkin berubah karena ulahnya. Lalu apakah semuanya harus dilimpahkan kepadanya sementara Isabella tidak pernah meminta perlakuan berlebihan yang Beryl berikan? “Daaa…gue minta maaf kalau semisal sikap Beryl ke elo jadi berubah semenjak ada gue. Tapi gue beneran nggak pernah meminta perlakuan lebih dari Beryl.” Isabella tahu Aida cemburu tapi mau bagaimana lagi. Beryl menjalankan tugasnya dan itu perintah dari Om Warsono. Bukankah selama ini dirinya terus meminta Beryl berhenti tapi justru laki-laki itu yang kekeuh pada pendiriannya. Isabella simpulkan, Beryl egois. “Bukan semenjak ada elo. Tapi gue memang hadir diantara lo dan Beryl.” Aida malah menjelaskan sesuatu yang membuat kepala Isabella bertambah pening. memangnya ada apa diantara Beryl dan dirinya. Isabella malah merasa Aida bukan pengganggu. “Gue dan Beryl selama ini nggak ada apa-apa.” Bagaimana caranya menjelaskan dengan bahasa yang gampang dipahami sesama wanita sih. Isabella mumet. “Kalau memang diantara elo dan Beryl nggak pernah terjadi sesuatu. Tolong lo jaga jarak dari Beryl. Gue nggak suka lo dekat-dekat sama dia. Dia pacar gue. Bolehkan gue egois seperti itu?” Isabella menyeruput es kopi miliknya, “Hmmm…tentu saja.” jawabnya tanpa pikir panjang. Tidak sulit juga melakukan permintaan Aida. “Makasih…” ungkapnya senang. Apa barusan perempuan bernama Aida ini datang hanya untuk meminta Isabella menjauhi Beryl, pacarnya. Memang kejadian begini sudah sering terjadi dalam hidup Isabella. Terutama semenjak masuk perkuliahan. Banyak perempuan yang memintanya menjauhi pacar mereka sementara Isabella merasa tidak dekat dengan laki-laki yang mereka bicarakan. Untuk pertemuan kali ini rasanya berbeda. Isabella mengenal Beryl. Hubungannya dengan Beryl juga amat dekat. Tapi tidak mungkin juga Isabella mengatakan soal apa yang sudah terjadi antara dirinya dan Beryl kemarin. Itu hanya kesalahan, Isabella harus meminta maaf. Tidak boleh mengulangi lagi. “Gue akan jauhin Beryl seperti permintaan elo.” Isabella mengutarakan. “Dan maaf juga soal kedekatan yang terjadi diantara gue dan Beryl.” Aida tersenyum, lagi, “Baik. Makasih Isabella.” “Ya…” jawab Isabella sekadarnya. Menjauhi Beryl, huh?! Bagaimana caranya Isabella melakukan itu. Sementara tugas Beryl saja mengawasinya setiap waktu. “Gue harus apa?” Isabella menjambak rambutnya sendiri saat Aida sudah pergi dan tersisa dirinya di kafe. “Gue bahkan nggak pernah mencoba mendekati Beryl tapi keadaan yang terus membuat gue berdekatan sama dia.” Isabella hendak pergi namun tindakannya dihentikan oleh Beryl. Matanya juga menatap Azlio dan beberapa teman Beryl yang lain. “Kenapa lo disini?” tanyanya mulai mencurigakan. Ya benar sih kalau Beryl curiga, pasalnya ini kafe tempat nongkrong anak fakultas hukum. Isabella bukan anak hukum. “Ketemu teman gue.” dustanya agar Beryl tidak curiga. “Teman lo anak hukum cuma gue dan Azlio, mungkin.” Beryl merasa percaya diri banget ya. Isabella tersenyum miring, “Nggak semua hal tentang gue akan lo ketahui Beryl.” Isabella meminta jalan karena Beryl menghadanganya, “Awas, gue mau balik ke kelas.” “Jelasin dulu, Bell..” pintanya memaksa. “Tolong tahu posisi, Ber. Kita dimana dan harus bahas apa. Jangan semau lo. Karena nggak semua hal bisa lo dapatin sekaligus. Jangan rakut. Jangan egois jadi orang!” tembaknya kasar. Isabella pergi menjauhi Beryl. “Lo kenapa lagi, sih, Bell?” batin Beryl menatap kepergian Isabella penuh tanya. “Itu beneran Isabella?” Heny yang sedari tadi menyaksikan interaksi keduannya dibuat melongo. Pasalnya dia sangat takjub pada style pakaian dan bagaimana Isabella bisa cantik. Rugi sekali Heny tidak berani bertanya justru malah melongo seperti sapi ompong. “Iya sayanggg…” kata Azlio dan langsung mendapat pitingan dari Hendrik. “Sayang sayang pala lo peyang. Punya gue nih!” ujarnya tak terima saat Azlio memanggil sayang pada Heny. “Lagian cewek lo bego banget. Udah tahu Isabella masih aja nanya.” Pletakkk… Heny menjitak kepala Azlio, “Heh, bule jadi-jadian, gue cuma memastikan. Bukan berarti gue nggak tahu siapa dia. Gue sangat tahu kok dia Isabella.” ujarnya teramat sadis. Azlio mendengus kesal. Lalu mengekori Beryl yang duduk di bangku pojokan. Biasanya tempat terfavorit mereka adalah berada bangku pojok. Alasannya bisa melihat jalanan dengan leluasa. Alasan terbaik menurut Azlio: bisa lihat ciwi-ciwi sliweran lewat jalanan. “Isabella tadi ketemu Aida, Ber.” ucap Heny horror. Juga diikuti tatapan terkejut dari Hendrik maupun Azlio. Heny bisa mengetahui karena sempat menanyakan soal Isabella ke salah satu mahasiswa yang ngopi disana. “Perang dunia barusan terjadi, Ber.” Hendrik menimpali juga disetujui oleh Heny dan Azlio. Beryl mulai memikirkan kalimat Isabella sebelum perempuan itu pergi. “Tolong tahu posisi, Ber. Kita dimana dan harus bahas apa. Jangan semau lo. Karena nggak semua hal bisa lo dapatin sekaligus. Jangan rakut. Jangan egois jadi orang!” Apakah maksud kalimat Isabella tentang hubungannya dan Aida. Apa yang telah terjadi antara dua perempuan itu barusan. Apa yang mereka bicarakan dan apakah Beryl yang menciptakan kekacauan itu?! “Gue kayaknya bisa menebak apa yang terjadi.” Azlio berujar saat Heny dan Hendrik sibuk pada menu meninggalkan mereka berdua. “Mereka bertengkar?” tanya Beryl sedikit ragu tapi juga bingung harus apa. “Lo harus mulai tegas Ber. Antara dua orang itu.” Beryl menatap Azlio kesal, “Mereka bukan pilihan.” “Tapi lo harus menentukan salah satu dengan memilih. Itu paten, bro.” Azlio kasihan melihat Beryl yang jelas tertekan menjalin hubungan bersama perempuan yang sama sekali tidak disukai. Sementara dengan Isabella juga tak kunjung ada kejelasan. “Putusin Aida kalau lo mau sama Isabella.” Azlio langsung pada titik solusi. “Gue bisa melakukan itu. Tapi apa mungkin Isabella akan mudah nerima gue?! Dia juga bakalan dicap buruk sama orang-orang.” Beryl tidak ingin itu terjadi. Apalagi setelah apa yang terjadi kemarin membuat Beryl semakin yakin soal perasaannya sendiri. “Lo tahu sendiri bukan. Bagaimana kabar soal hubungan gue dan Aida dengan gampangnya tersebar. Padahal gue nggak cerita ke siapa-siapa.” Beryl heran apakah orang-orang tidak ada kerjaan lain selain mempersulit hidupnya. Beryl tidak suka popularitas. Dia suka privasi. “Lo mau kemana?” Azlio menatap Beryl yang berniat pergi. Tidak ada jawaban dari Beryl. Mahasiswa populer itu berlalu begitu saja mengacuhkan panggilan teman-temannya. “Dia mau kemana?” Heny cukup peka membaca situasi. Pasti antara Isabella dan Aida. “Menyelesaikan urusannya, sayanggg…” “Stop panggil gue sayang. Hendrik bakal ngamuk kalau lo terus godain gue.” Ancam Heny penuh peringatan. “Terus apa masalahnya. Gue memang sayang elo, Hen.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN