01 - First Kiss - √

1113 Kata
Seorang gadis yang baru saja menginjak remaja menuruni anak tangga dengan langkah tergesa-gesa. Gadis itu akan terlambat jika dalam kurun waktu 15 menit tidak sampai di kampus, tempatnya kini menimba ilmu. Gadis manis yang bernama lengkap Ani Pandhita itu segera berlari menuju ruang makan saat akhirnya is berhasil menuruni setiap anak tangga. Saat memasuki ruang makan, Ani melihat Haikal sedang membaca koran, ditemani secangkir kopi dan juga beraneka ragam cemilan tradisional yang tersaji di atas meja makan. Ani mengecup pipi kanan Haikal, membuat lelaki paruh baya itu terkejut dengan apa yang baru saja Ani lakukan. Ani terkekeh, begitu pun dengan Haikal. Ani lantas memeluk Haikal dari samping. "Ayah, Ani berangkat sekarang ya." Haikal melipat koran yang belum selesai ia baca, lalu menaruhnya di meja. "Kamu enggak mau sarapan dulu?" Ani menggeleng. "Enggak ah!" tolaknya halus. "Kalau Ani sarapan, Ani bisa telat, Yah," jawabnya setengah merajuk. Haikal terkekeh begitu mendengar jawaban Ani. "Kan Ayah sudah bilang, jangan tidur terlalu larut malam." Bibir Ani mencebik begitu mendengar nasehat Haikal yang tentu saja selalu ia abaikan. "Iya Ayah, maaf," ujarnya dengan nada menyesal. Ani melepas pelukannya, menatap Haikal dengan mata berbinar. "Apa?" tanya Haikal geli. Raut wajah Ani berubah masam dan itu membuat Haikal lagi-lagi terkekeh. "Uang jajan Ani mana? Masa Ayah lupa sih," jawab Ani dengan bibir cemberut. "Berapa?" tanya Haikal sambil merogoh saku celananya. "Sedikasihnya sama Ayah." "Ya sudah, gak usah jajan." "Ayah ih!" Ani merajuk seraya menghentakkan kakinya. Tawa Haikal lolos, lalu memberi Ani beberapa lembar uang jajan. "Belajar sungguh-sungguh ya, jangan sampai nilainya jelek. "Kalau nilai Ani ada yang jelak, bagaimana?" "Uang jajannya Ayah potong dan semua fasilitas kamu Ayah cabut." Haikal mengatakan kalimat tersebut dengan sungguh-sungguh, didukung dengan raut wajahnya yang tampak serius. Mata Ani sukses membola begitu mendengar jawaban Haikal yang menurutnya sangat menyeramkan sekaligus horor. "Ayah, jangan di potong, nanti Ani enggak bisa jajan," rengek Ani manja sambil mengguncang kuat bahu Haikal yang hanya terkekeh. "Makanya kamu harus belajar sungguh-sungguh biar uang jajannya enggak Ayah potong dan semua fasilitasnya tetap bisa kamu pakai." Ani mengangguk dengan penuh semangat. "Iya Ayah, Ani akan belajar sungguh-sungguh biar uang jajan Ani enggak Ayah potong." Haikal malah tertawa terbahak-bahak begitu mendengar jawaban Ani. Jadi, motivasi Ani saat ini untuk belajar sungguh-sungguh adalah karena uang jajan? Dasar! "Ya sudah, sana berangkat. Nanti telat loh." Ani sontak menepuk keningnya. Ia hampir saja lupa kalau ia harus segera berangkat kuliah. Ani kembali mengecup pipi kanan Haikal dan langsung berlari menuju teras depan tanpa berpamitan pada Haikal yang hanya bisa menggeleng melihat kelakuan Ani, putrinya. *** Ani menghela nafas panjang, merasa lega karena ia sampai di kampus tepat waktu. Bisa gawat kalau ia sampai telat datang. Untung saja jalanan tidak macet, jadi ia bisa mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Ani meneliti penampilannya, dari ujung kaki sampai ujung rambut, memastikan kalau penampilannya terlihat rapi dan juga bersih. Setelah yakin kalau penampilannya rapi, Ani bergegas menuju kelas, tempat di mana ia akan mulai belajar. "Hai!" Ani melenggang begitu saja, mengabaikan sapaan dari pria yang kini berjalan beriringan dengannya. Entah dari mana pria itu muncul, karena tiba-tiba saja sudah berjalan beriringan di sampingnya. Pria itu mencekal pergelangan tangan Ani, membuat langkah Ani sontak terhenti. Ani berbalik menghadap pria itu, dan Ani bisa merasakan seluruh tubuhnya tiba-tiba panas saat kulitnya dan kulit pria di hadapannya ini bersentuhan. "Astaga! Kenapa rasanya seperti ini?" jerit Ani dalam hati. "Apaan sih?" Ani sama sekali tidak bisa menutupi rasa kesal dalam nada bicaranya. Kesal karena pria di sampingnya ini tiba-tiba menyapanya, lalu kini malah menggenggam erat jemarinya. Padahal ia sama sekali tidak punya urusan atau masalah dengan pria di hadapannya ini. Bukannya marah karena gadis yang baru saja ia sapa terlihat kesal dan tidak suka dengan kehadirannya. Pria itu malah terkekeh, dan hal itu membuat Ani semakin kesal. "Kenalan dong." Pria itu melepas pergelangan tangan kanan Ani lalu mengulurkan tangan kanannya, ingin berjabat tangan dengan Ani. Tanpa mau berpikir dua kali, Ani menggeleng, menolak tawaran pria menyebalkan di hadapannya ini. "Gue enggak mau kenalan sama lo, dan gue juga enggak mau kenal sama lo!" tolaknya tegas. Ani menatap pria di hadapannya dengan sorot mata tajam juga angkuh. Bulu kuduk Ani meremang, saat melihat pria di hadapannya ini tersenyum. Bukan, bukan tersenyum, tapi smirk yang menurutnya sangat menyeramkan. "Yakin?" tanya pria itu dengan suara rendah. Pria di hadapan Ani bergerak maju, secara naluriah, Ani mundur sampai punggungnya menabrak tembok di belakangnya. "Mau apa, lo?" tanya Ani gugup. Ani mencoba mendorong bahu pria yang kini mengungkung tubuhnya di tembok dengan kekuatan penuh, tapi tenaganya kalah kuat dengan pria menyebalkan yang sialnya juga sangat tampan. "Kenalan, gue mau kenalan sama lo." "Ok, ok. Nama gue Ani," jawab Ani cepat, terlampau cepat malah. Reza menyerukan wajahnya di ceruk leher Ani, menghirup dalam-dalam aroma Ani, membuat bulu kuduk Ani meremang saat nafas hangat Reza menerpa kulit lehernya. "Reza, nama gue Reza," bisiknya sensual. Ani menggangguk, kembali mendorong Reza dengan kekuatan penuh, tapi Reza tetap tak bergeming. "Awas ih!" "Gue belum selesai, Ani." "Mau apa lagi?" tanya Ani sambil memutar matanya jengah. Ia sudah hampir telat untuk mengikuti jam pelajaran mata kuliah pertamanya. Reza menurunkan pandangannya pada bibir ranum Ani yang tipis dan menggoda. Ani mengatupkan bibirnya saat ia sadar kalau Reza tengah menatap intens bibirnya. Ani lantas mendongak, membalas tatapan mata tajam Reza. Mata Ani sukses membola saat bibir Reza mendarat di bibirnya. Hanya kecupan yang Reza berikan, tapi itu sukses membuat tubuh Ani lemas tak berdaya. Ani mengerjap, mencoba mencerna kejadian yang baru saja ia alami. Ia baru saja bertemu dengan pria yang tiba-tiba mengajaknya berkenalan, lalu pria yang bernama Reza itu baru saja mengecup bibirnya, mencuri ciuman pertamanya. "Ciuman pertamanya! Ciuman pertamanya! Ciuman pertamanya!" Kata-kata itu terus terulang dalam pikiran Ani bagai kaset kusut. Berkali-kali Ani mengerjap, dan saat itulah ia sadar kalau Reza sudah tidak ada lagi di hadapannya. Hanya ada dirinya dan beberapa orang yang kini menatapnya dengan berbagai macam pandangan. Ani mengedarkan pandangannya kesegala penjuru arah, mencari sosok Reza. Ani menemukan Reza yang kini sedang melangkah entah ke mana, mungkin ke kelasnya. "Dasar pria tidak tahu sopan santun!" Teriak Ani menggelegar. Ia sama sekali tidak peduli kalau orang di sekitarnya akan merasa terganggu dengan apa yang baru saja ia lakukan. Reza menoleh sambil mengedipkan matanya dan hal itu sukses membuat Ani berang. Ani berlari, berniat mengejar Reza, memberi pelajaran pada pria menyebalkan yang baru saja mencuri ciuman pertamanya. Tapi saat saat ia melihat jarum jam di pergelangan tangannya, matanya sukses membola karena ia sudah terlambat 5 menit di jam pelajaran mata kuliah pertamanya. Sial! Ini semua gara-gara Reza. Ia pasti akan memberi pria itu pelajaran saat kelas yang nanti ia ikuti sudah selesai. "Lihat aja! Tunggu pembalasan gue!" Ani menggeram penuh emosi membara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN