Extra Part II

1933 Kata

Aku meraih ponselnya Dikta dan menyentuh tanda hijau pada layarnya. Layar ponsel itu sudah beberapa kali menyala, tertera nama Kak Fani di sana. Dikta sedang mandi. Mungkin ada hal penting, jadinya aku angkat saja telepon dari kakak iparku itu. "Hallo, Kak?" "Mel, Diktanya ada?" "Ada, dia lagi mandi. Ada apa, Kak?" "Papa lagi kritis, Mel. Kayaknya tinggal nungguin Dikta aja.” Suara Kak Fani terdengar bergetar di seberang sana. "Tolong bilangin sama Dikta, datang hari ini juga ke rumah sakit. Kakak minta tolong banget, tolong bujukin Diktanya supaya mau. Takdir nggak ada yang tahu, tapi ini Papa... kayak udah mau pergi, cuma berat seolah sedang menunggu Dikta hadir di sini. Nggak tahu, ini menurut Kakak aja." "Iya, Kak. Aku akan usahain supaya Dikta hadir di sana, ya? Kak Fani yang sa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN