“M-maaf!” cicit Zoya dengan suara bergetar “Huhh..” Zeo menghela nafas kasar Zeo mengalihkan pandangannya. Pulang terlambat, foto berpegangan tangan, hal itu terus berputar di kepalanya. “Bersih-bersih dan setelah itu istirahat!” ucapnya dengan nada dingin Zoya memilih diam. Ia tidak berani membantah perkataan suaminya, apalagi respon Zeo begitu dingin. Tatapan tajamnya membuat nyali Zoya menciut. Ia mengerti dibalik kemarahan suaminya saat ini. “Maafin Zoya, mas!” lirihnya dengan suara bergetar Zoya melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Kali ini ia lebih hati-hati agar tidak membahayakan dirinya dan calon buah hatinya. Zoya mengelus perutnya sembari berucap dalam hati. “Maafin Bunda ya, sayang. Bunda tidak bermaksud menyakiti kamu.” Keesokan harinya. Zeo sedang bersiap u

